Assign modules on offcanvas module position to make them visible in the sidebar.

Main Menu

makna ridho keuntungan yang sedikit

 

Dalam berbagai syirah (kisah para sahabat) disebutkan bahwa salah satu alasan kenapa Abdurrahman bin auf (satu dari sekian sahabat besar Nabi) begitu sangat sukses dalam berdagang, adalah bahwa beliau mengatakan ridho terhadap keuntungan yang sedikit.

 

Disebutkan dalam sebuah sumber di internet sebagai berikut :

 

Suatu hari seseorang pernah bertanya pada Abdurrahman bin Auf -radhiallahu anhu-, “Apa kiat anda hingga bisa sekaya ini..?

 Abdurrahman bin Auf menjawab, “Dulu.. Aku selalu ridho dengan keuntungan yang sedikit.”

 
Baiklah kita bahas satu saja dari perkataan ini.

 

Jika kita mendengarkan perkataan ini setidaknya akan muncul dua tafsiran di benak kita. Kedua-duanya insya Allah baik selama dimaksudkan dalam koridor yang tepat sesuai syariat.

Baiklah untuk lebih jelasnya mari kita kupas di pembahasan di bawah ini.

 

Tafsiran pertama,

Tafsiran pertama bahwa yang dimaksud dengan ucapan bahwa ridha terhadap keuntungan yang sedikit adalah bahwa kita ikhlas menerima selisih laba yang sedikit.

 

Sebagai contoh katakanlah kita berjualan sebuah produk A yang harga kulak nya adalah sebesar RP 100.000. Lalu kita jual cukup dengan Rp. 110.000. Padahal orang-orang, para pedagang lain menjual produk A tersebut adalah seharga Rp 150.000. Maka disini yang dimaksud dengan ridha terhadap keuntungan yang sedikit adalah bahwa :

kita Ridho hanya untung Rp 10.000 tersebut meskipun pasarannya kita bisa ngambil untung sampai dengan Rp 50.000 sebagaimana pedagang lain.

 

Ini adalah persepsi yang pertama.

Adapun masalah benar atau salahnya persepsi ini mungkin bisa kita kroscek menanyakan ke ustadz yang faqih di bidang muamalah untuk menjawabnya.

 

Hanya saja menurut saya persepsi ini kurang tepat, karena di situ ada praktek dumping yang bertentangan dengan ketentuan syariat. Dumping adalah praktek menetapkan harga yang lebih murah dari pasaran. Dumping ini secara umum tidak diperkenankan dalam Islam selama penurunan harganya ini terlalu jauh dari harga pasar sekelilingnya.  Namun jika harganya tidaklah berselisih terlalu jauh maka tidak mengapa insya Allah, begitu pendapat ulama yang saya pegangi sampai saat ini.

Selain itu, dengan memaknai dengan tafsiran ini artinya dapat saja di pasaran akan terjadi perang  harga. Bayangkan jika seluruh pedagang di pasar menerapkan tafsiran ini, semua akan bersaing untuk murah-murahan. Dan pada saatnya akan terjadi cost operasional yang terlalu besar untuk dapat ditutupi margin keuntungan.  

Alasan lain parsialnya tafsiran ini adalah bahwa ternyata harga murah itu relatif. Tidak bisa dipersepsikan secara universal  di antara para pedagang. Meskipun alasan ini terlalu terburu-buru jika tidak diperjelas lebih dalam, namun setidaknya dapat menjadi alasan pendukung.

 

Tafsiran Kedua

Adapun tafsiran ke-2 adalah maknanya : Ridho dengan bisnis yang hanya menghasilkan keuntungan yang sedikit.

 

Saya kasih contoh misalkan kita berjualan produk baju dengan merek A. Di mana dengan produk baju merk A ini, kita hanya mendapatkan keuntungan 10 %. Jadi misalkan harga kulak nya adalah sebesar Rp 50.000, kita hanya berhak menjual Rp. 55.000. Sehingga untungnya hanya Rp 5.000 saja.

 

Sementara di toko sebelah ada seorang pedagang yang dia kulak ke produsen baju B yang memberikan presentase diskon keuntungan sampai dengan 20 %.

Jadi misalkan pedagang B tersebut kulaknya dari produsen adalah Rp 50.000, maka dia berhak untuk menjual dengan harga Rp 60.000, yakni berselisih 10.000 yang merupakan 20 % dari harga kulak. Keuntungan toko B  dari menjual baju merek B adalah sebesar Rp 10.000 tentunya, 2 kali lipat baju merek A.

 

Dari contoh kasus di atas, tafsiran kedua dari perkataan Abdurrahman bin Auf diatas maknanya adalah bahwa : pedagang yang menjual produk A tersebut Ridho dengan cukup berjualan produk baju merek A di mana hanya memberikan diskon keuntungan sedikit (dicontohkan hanya 10 %). Dia tidak tergoda untuk berjualan produk B. Inilah makna yang saya cenderungi dalam memahami perkataan Abdurrahman bin Auf diatas.

 

Saya lebih cenderung ke tafsiran ini, karena di dalamnya ada berbagai hikmah di antaranya adalah :

 

Pertama,

Di situ ada sikap legowo dan qana'ah.

Legowo artinya : kalaupun toko B memiliki keuntungan lebih besar dari tokonya, maka jiwanya legowo, tidak mempermasalahkan. Dia berpandangan bahwa keuntungan 20 % itu sudah merupakan rezeki dari Toko B.

Sedangkan dirinya memiliki rejeki ya 10% saja tersebut dari berjualan produk A. Dia tidak mudah tergoda untuk beralih menjual produk B. Dia Istiqomah berjualan dan cukup berdoa saja dan menerima berapapun rezeki yang diberikan oleh Allah kepadanya. Karena baginya jikapun toh beralih ke produk B, rejekinya pun ndak akan bertambah kecuali yang sudah ditetapkan. Malah repot harus memulai lagi dari awal berkenalan dengan produk baju merek B.

 

Selain adanya sikap legowo juga ada sikap qana'ah. Yakni sebagaimana di atas bahwa qana’ah adalah menerima berapapun rezeki yang diberikan Allah kepadanya.

 

Kedua,

Hikmah lain yang bisa didapatkan dari pengertian ridha terhadap keuntungan yang sedikit sebagaimana tafsiran yang kedua adalah bahwa dengan dia berbuat seperti itu dia menjadi fokus berjualan produk A saja.

Karena yang namanya fokus itu sangat penting di dunia bisnis. Orang yang tidak fokus nanti akan mencla mencle dan bergonta-ganti bisnis. Belum sampai bisnisnya menghasilkan dia sudah tergoda untuk menjalankan bisnis yang lain. Akibatnya dia tidak pernah menyelesaikan pekerjaan. Baru mengerjakan tool-toolnya saja sudah tidak sabar dan mulai melirik untuk meninggalkan dan beralih ke bisnis yang lain. Di situlah pentingnya untuk ridho terhadap keuntungan yang sedikit meskipun banyak produk lain yang memiliki keuntungan yang lebih besar.

 

Ketiga,

Kemudian hikmah lainnya adalah karena keistiqomahan nya, pada saatnya masyarakat akan mengenal dia sebagai pedagang produk A tersebut. Di situlah tercipta Personal branding dirinya. Dia menjadi dikenal di masyarakat sebagai pedagang produk baju merek A.

 

Jadi karena dia sudah dikenal sebagai pedagang produk A maka masyarakat setiap kali butuh produknya akan mencari dirinya. Apalagi jika ditunjang dengan pelayanan dan dedikasi yang prima sebagai manifestasi dari ridha terhadap keuntungan yang meskipun sedikit tersebut. Orang ridho kan imbasnya dedikasi yang tinggi.

 

Dan pada akhirnya dia akan mendapatkan kuantitas pesanan karena walaupun satu produk keuntungannya sedikit tapi karena banyak masyarakat yang senang dengan dirinyam dan bahwa untuk mencari produk itu baiknya kepada dirinya, maka menjadi ada faktor kali dalam setiap penjualannya. Dan nilai faktor kali inilah yang menyebabkan keuntungannya menjadi besar. Kalau satu produk hanya memberikan keuntungan Rp 5.000, maka jika dalam sehari dia bisa mendapatkan 100 produk maka dia akan mendapatkan keuntungan Rp 500.000.

 

Demikian sekilas menurut saya tafsiran dari ucapan Abdurrahman bin auf sebagai bapak bisnisnya kaum muslimin dari generasi para sahabat yang bisa kita contoh dan kita tafsiri sesuai dengan konteks yang lebih tepat.

Saya sekarang lebih condong ke tafsiran yang nomor 2. Wallahu a’lam.

 

Semoga sedikit membantu dan memberi gambaran bagaimana konsep berbisnis itu.