Assign modules on offcanvas module position to make them visible in the sidebar.

Main Menu

Jiwa Struggle

Tidak harus seseorang yang memiliki cita-cita menjadi pengusaha saja yang harus memiliki jiwa struggle. Bahkan yang ingin berkarir menjadi pegawai pun juga harus memiliki jiwa struggle.

 

Seorang calon pegawai, untuk memasuki dunia kerja biasanya untuk mendapatkan pekerjaan yang bonafit di lingkup perusahaan bergengsi, tingkat persaingan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut cukup tinggi. Bahkan seperti PNS saja dimana sering kita dengar di berita-berita yang setiap tahun membuka lowongan, terdapat ratusan ribu yang mendaftar.  Padahal lowongan yang ada kurang dari 2000 biasanya. Fakta ini menyebabkan para calon pegawai harus memiliki karakter struggle.

 

Apa itu struggle ? Struggle merupakan kosakata yang saya adopsi dari bahasa Inggris. Ketika saya translate menggunakan google translate ke dalam bahasa Indonesia, makna yang muncul adalah “perjuangan”. Jadi segala sifat yang termaktub pada makna “perjuangan” tersebut bisa dikatakan sebagai jiwa struggle. Seperti contohnya : kerja keras, semangat berjuang, penuh antusiasme, jauh dari sifat malas, dan sebagainya.

 

Pada waktu kuliah dahulu ada beberapa seminar yang saya ikuti yang mengenalkan mahasiswa pada dunia usaha. Seminar tersebut mengajarkan dan memotivasi untuk menjadi pengusaha. Alasan diadakannya seminar-seminar itu simpel saja. Yaitu karena dunia kerja seakan-akan sudah tidak muat untuk menampung lulusan perguruan tinggi. Di seminar-seminar tersebut kita banyak dimotivasi oleh para pengusaha yang sudah jadi atau bahkan mentor mentor bisnis. Dengan berbagai cara mereka memotivasi kita untuk berbisnis. Ya tentu saja akhirnya motivasi itu banyak yang merubah pola pikir kita sehingga untuk kedepannya banyak yang pingin jadi pengusaha.

 

Namun menurut saya ada sedikit Miss communication di dalamnya. Yang paling kentara adalah dikesankan bahwa untuk menjadi pengusaha itu enak karena banyak waktu bebas yang tidak harus terikat dengan jam kerja. Bahkan di dalam beberapa sesi di motivasikan ke kita tentang passive income. Yakni penghasilan akan tetap mengalir tanpa harus bekerja.

 

Ya kami tentunya tertarik. Bagaimana tidak tertarik wong mereka mengiming-imingi penghasilan 30 juta ke atas tanpa harus bekerja. Padahal waktu itu seorang lulusan sarjana gaji pertama tak lebih dari 2-3 juta saja. Kalimat-kalimat seperti itulah yang pada waktu itu banyak kami dengarkan ketika masih mahasiswa.

 

Memang tidak salah kalau tujuannya untuk memotivasi. Hanya saja seakan bahwa unsur kerja keras lebih yang dituntut dari menjadi seorang pengusaha itu ditiadakan dalam seminar-seminar itu. Atau paling tidak diminimalisir sampai pada level seakan hanya sekedar sebagai bumbu penyedap. Yang mana pada akhirnya tujuan kita menjadi pengusaha adalah seakan-akan hanya untuk males-malesan. Sifat dasar manusia yang ingin mudah (di antaranya sikap males tanpa bekerja) dijadikan sebagai motivasi dalam seminar seminar tersebut.

 

Benar tidak semuanya dikaitkan dengan kemudahan dan rasa males. Ada juga iming-iming tentang kemudahan dalam bersedekah karena banyak uang, kemudian tujuan ibadah besar seperti haji yang membutuhkan uang, lalu menyenangkan orang tua, berekreasi, dan lain sebagainya yang semuanya pastinya membutuhkan uang. Namun seakan inti pokok nya adalah kemudahan yang dijadikan motivasi. Akibatnya orientasi menjadi ke kemudahan hidup saja.

 

Males-malesanMales-malesan

 

Belum-belum di awal usaha sudah besar keinginan untuk kemudahan dalam bisnisnya. Akibatnya ketika muncul tantangan sedikit saja, sudah putus asa karena harapan semu di awal adalah untuk hidup mudah. Menjadikan kita ada perasaan komplain terhadap seminar yang diikuti.

“Ternyata tidak seindah teorinya...” mungkin begitu pikiran yang bergelayut saat tiba masa kemandegan dalam usaha.

 

Kenyataan ini menyebabkan jalan-jalan pintas sering ditempuh. Seperti hutang ke bank tanpa perhitungan, menggadaikan rumah orang tua, aset yang dijual demi menjalankan bisnis, dan lain sebagainya. Bahkan beberapa diantaranya banyak yang terjebak kartu kredit demi gaya hidup atau menghidupi usahanya yang secara feasibility study nya tadi kurang layak.

 

Saya memiliki kisah seorang teman yang mungkin bisa kita jadikan contoh. Teman kuliah. Awalnya dia cukup rajin dan memiliki nilai yang bagus. Garapannya juga bagus. Intinya prospektiflah orangnya. Tidak seperti saya hehe...

 

Tapi di sepertiga periode kuliah yang terakhir dia termotivasi oleh bisnis seminar-seminar tersebut. Dimana diajarkan di dalam seminar seminar itu bahwa untuk menjadi pebisnis itu tidak tidak perlu lulus. Kemudian diceritakan contoh-contoh pebisnis sukses yang tidak lulus seperti Bill Gates. Dijadikan motivasi bahwa untuk berbisnis tidak perlu lulus. Apalagi teman saya ini mulai sering ngaji Sunnah dimana memang kebanyakan salaf tidaklah menjadi pegawai, tetapi lebih banyak menjadi pedagang.

 

Akhirnya teman saya ini termotivasi untuk bisnis.  Naifnya, kemudian kuliahnya menjadi acak-acakan karena sudah tidak di seriusi lagi. Disadarkan oleh teman-teman yang lain tidak bergeming. Hingga pada satu titik teman saya ini kena drop out karena tugas-tugasnya tidak dikerjakan dan sering meninggalkan kuliah. Eman sekali.

 

Namun ketika menjalani bisnisnya pun dia juga tidak maksimal. Saya melihat keadaannya diawal-awal begitu termotivasi bahwa bisnis itu mudah dan banyak mendapatkan waktu luang. Ya tentu saja karena terpengaruh oleh seminar seminar motivasi bisnis yang disebutkan di atas tadi. Padahal bisnis itu butuh kerja keras.

 

Akhirnya kisah hidupnya di periode tahun-tahun berikutnya lebih banyak berita tentang cerita loncatnya dia dari satu bisnis ke bisnis lain. Tak lupa pula dibumbui garam penyedap berupa banyak menghabiskan harta orang tuanya untuk modal. Ilmu bisnis nya masih sangat kurang,  hanya bermodalkan motivasi saja. Motivasi yang tanpa diimbangi oleh ilmu tentu saja cepat pudar atau ngawur jadinya. Setiap kali membuat proposal dan memulai usaha dan setiap kali itu muncul rintangan pertama atau kedua, maka setiap kali itu pula dia down dan melirik usaha yang lain.

 

Memulai usaha bukanlah sebuah kemajuan atau prestasi. Tetapi baru awalan. Bagaimana mungkin akan sukses ketika baru awalan sudah ditinggalkan ?

 

Awalnya teman saya ini ingin mencoba bisnis jualan pohong keju. Mendapatkan modal dari orang tuanya untuk membuat rombong pohong keju. Ketika semuanya sudah siap bahkan termasuk memiliki 1 orang pegawai, muncullah hambatan pertama dimana pegawai tersebut mengundurkan diri. Sebelumnya dia tidak mempelajari bahwa usaha rombong itu sangat cepat perputaran SDM yang keluar masuk. Dia tidak mengilmui itu. Akhirnya tidak lama dia pun berhenti dengan alasan karena pegawai tidak ada. Berat di SDM. Padahal pasti ada solusi. Tapi sepertinya sudah lelah di bisnis ini.

 

Tidak berapa lama dia mencoba bisnis desain. Segala perlengkapan termasuk tool-tool software berbayar sudah disiapkan. Perangkat seperti alat-alatnya, brosur dan lain sebagainya juga sudah disiapkan. Namun entah karena apa tidak berapa lama pun juga berhenti. Mungkin bingung bagaimana mendapatkan pasar. Saya tidak tahu pasti.

 

Kemudian sempat juga melirik bisnis startup yang dimana pada waktu itu yang nge-trend sejak munculnya Facebook. Ya sudah dia begitu semangat berbisnis ini. Sepertinya terbakar oleh kesuksesan startup-startup IT pada waktu itu. Dengan segala idealisme-nya, diapun mengerjakan konsepnya. Termasuk flow chart (meskipun masih sederhana) juga sudah dibuat dan dirancang sedemikian rupa. Pasar dan lain sebagainya juga sudah dibuatkan gambarannya. Siapa pemakai produk ini dan bagaimana monetizenya. Semuanya sudah dirancang dengan penuh antusias dan semangat.

 

Namun tak berapa lama, di bisnis inipun lunglai juga akhirnya. Ndak tau kenapa. Sepertinya kehabisan modal. Kurang mengilmui bahwa membuat start-up itu butuh duit yang sangat besar.

 

Akhirnya dia mulai realistis karena membuat startup menjadi besar itu tidak mudah dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Beberapa kali dia menjual ide ke beberapa programer dengan mengiming-imingi bahwa nanti kalau besar kita bagi hasil saham sekian dan sekian. Tapi ya tentu saja tidak jalan bisnis gaya seperti itu. Namanya programer kan juga butuh makan dan nutrisi. Singkatnya programmer butuh  dana cash, bukan dibayar dengan iming-iming impian di masa depan yang belum tentu juga akan beneran sukses. Kalaupun toh idenya luar biasa, pun juga buat apa bekerjasama dengan teman saya ini? Toh bisa bikin sendiri. Biasanya gitu pemikiran programmer. Dan sekali lagi rencana bisnis ini pun juga gagal atau belum lanjut.

 

Hingga akhirnya kisah hidupnya, tak berapa lama diapun menikah setelah melewati berbagai bisnis lain di luar yang saya sebutkan diatas tadi. Dan hambatan itu pun ada meskipun sudah menikah. Menikah bukanlah solusi terhadap semua masalah. Bahkan bisa jadi merupakan permasalahan baru jika tidak diilmui dengan benar dan di menej dengan sistematis pula.

 

Beberapa tahun sesudah menikah dan punya anak,  teman saya ini pindah kota dan memulai hidup baru di sana. Sampai akhirnya saya dengar kabar terakhir bahwa dia bisnis jualan celana. Secara sekilas saya melihat bisnis celana itu kan banyak sekali pesaingnya. Kalau diibaratkan dengan samudra, istilahny adalah red ocean. Tanpa adanya diferensiasi khusus maka susah untuk bersaing dan besar. Ya semoga saja Allah menolong nya.

 

Never Give UpNever Give Up

 

Dari sini yang patut digarisbawahi bahwa sekali lagi jiwa struggle siap berjuang dan kerja keras itu memang harus dimiliki oleh setiap orang yang bercita-cita menjadi pengusaha. Kalau dia ingin berhasil usahanya dia harus siap menghadapi segala resiko dan tantangan dari usahanya tersebut. Tanpa adanya hal itu jangan harap bisa sukses usahanya. Bahkan jiwa struggle ini harus pula dimiliki setiap orang yang pengen sukses masa depannya. Meskipun seorang pegawai sekalipun seperti yang saya sebutkan di paragraf awal di atas, jiwa struggle tetap dibutuhkan jika ingin sukses. Kalau seseorang tidak bisa struggle untuk dirinya, biasanya akan otomatis struggle untuk bosnya. Bisa diamati kok insyaAllah.

 

Sampai tulisan ini saya tulis, saya masih memiliki binaan berupa anak-anak SMK yang magang di tempat saya. Saya melihat anak-anak jaman sekarang ini, mencapai 70 % lebih yang jiwa stuggle-nya  rendah.Prosentase ini terlalu besar jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

 

Saya kasih contoh misalnya ketika mereka tak kasih perintah tugas untuk menghidupkan sound system. Sengaja tidak saya berikan kisi-kisi gimana cara menyalakan nya. Saya biarkan mereka mengutak-atik sendiri.

 

Diutak-atiklah beberapa saat oleh mereka, dan beberapa menit kemudian mereka menyerah. Katanya tidak ada ada sensornya sehingga tidak bisa dihidupkan mic wirelessnya.

 

Dan mereka pun menyerah dan mengatakan :”tidak bisa Pak”.

 

Ya saya hanya bertanya-tanya saja : “Masak iya sih ?”

 

Ya kan aneh padahal tiap hari dipakai kemudian dikatakan tidak bisa karena tidak ada sensornya. Entah karena mereka yang bodoh (maaf agak kasar mungkin, pen) ataukah saya yang gak nyambung? Cepat sekali menyimpulkan. Dan setelah saya periksa ternyata hanya karena baterai mic yang sudah habis. Lalu dibelikan baterai baru sudah langsung nyala. Di sini benar-benar tidak ada jiwa struggle (pantang menyerah dan terus berusaha). Bahkan yang ada jiwa putus asa yang cepat muncul.

 

Saya juga pernah memberi tugas ke anak-anak magang untuk membuat blog. Di awal-awal saya perintahkan untuk menulis sendiri dan memberikan backlink-backlink di dalamnya. Saya kasih tugas dalam seminggu bikin 10 artikel. Ternyata dalam satu minggu itu cuman selesai 1-2 blog saja. Padahal 1 blog itu bisa diselesaikan 1 sampai 3 jam bagi anak yang rajin.

 

Saya hanya bertanya-tanya :”Kemudian waktu selama seminggu ini dipakai untuk apa saja?”

 

Usut punya usut, ternyata waktunya banyak digunakan untuk main game. Dan tentu saja tidak mengerjakan tugas. Mungkin karena saya sabari sehingga dianggap saya tidak serius dan merekapun meremehkan.

 

Ini merupakan karakter yang tidak baik yang seharusnya bagi kita yang muslim ini, tidak boleh memiliki karakter seperti itu. Karena efeknya jelas akhirnya target yang dibebankan menjadi molor. Apalagi dikombinasi dengan attitude yang tidak baik seperti waktunya diisi dengan main game. Kemudian attitude buruk lain seperti suka berbohong, datang terlambat, dan males-malesan. Semuanya lebih rumit lagi ceritanya.

 

Saya bisa mengatakan seperti ini karena saya mempunyai perbandingan berupa beberapa anak lain yang memang bagus kerjaannya dan serius. Anak yang demikian saya kasih nilai yang bagus. Tapi itu jumlahnya tidak banyak. Dari 19 anak yang saya didik, hanya 3 orang yang memiliki jiwa yang bagus seperti ini.

 

Menurut saya ini menggambarkan tentang keadaan realita di masyarakat kita yang masih butuh untuk peningkatan kualitas attitude dan semangat kerja kerasnya.

 

Hubungannya dengan bisnis adalah kita menjadi tahu, mengapa seseorang menjadi males.

Berikut adalah beberapa alasan yang bisa saya simpulkan dari berbagai pengalaman yang pernah saya alami selama ini seperti yang saya ceritakan sebagiannya di atas, baik dengan melihat fenomena teman-teman di sekitar saya, kebiasaan anak-anak magang, maupun bahkan diri saya sendiri yang saya alami.

 

Mengapa seseorang menjadi males dan tidak memiliki jiwa struggle?

 

Yang pertama adalah karena kemakan motivasi-motivasi seminar yang terlalu berlebih-lebihan dalam menceritakan keindahan profesi sebagai pengusaha. Mereka (para mentor atau coach bisnis), banyak memotivasi tapi sayangnya dengan motivasi yang salah. Motivasinya dengan memberikan indahnya kehidupan berwiraswasta. Dengan tanpa menceritakan mimpi buruk dalam berwiraswasta. Akibatnya banyak peserta yang terbuai.

Jadi solusinya kurangi mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu. Lebih baik ikuti kegiatan seminar atau pelatihan yang memang mengajarkan ilmu praktis nya langsung, bukan hanya motivasi. Meskipun berbayar tidak masalah. Itu masih lebih baik.

 

Yang kedua adalah karena kurangnya ilmu.

Sebagaimana yang saya ulas sedikit di atas bahwa kebanyakan seminar-seminar bisnis yang diadakan di kampus-kampus atau sekolah-sekolah, ruhnya hanyalah pada motivasi saja. Sehingga wajar jika pesertanya tidak tahu ilmu-nya. Oleh karena itu hendaknya para pelajar atau mahasiswa yang bercita-cita untuk jadi pebisnis harus menguasai ilmu nya dulu secara mendalam. Ketika sudah menentukan bidang bisnis apa yang akan dia tekuni, paling tidak ada 2 bidang yang harus dia ilmui. Yaitu ilmu di bidang produknya dan ilmu bagaimana membisniskan nya.

Imam Bukhori pernah mengatakan : “Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan”.

Perkataan ini bisa kita terapkan juga dalam berbisnis.

 

Yang ketiga adalah mindsetnya yang sudah berbeda.

Ketika dari awal sudah dibentuk mindset bahwa menjadi pebisnis itu bukankah tempat yang ideal untuk bersantai-santai bahkan merupakan lahan untuk bekerja keras dan kreativitas, seseorang yang terjun ke dalamnya insya Allah lebih siap.

Beda dengan ketika terjun ke sana hanya karena iming-iming hidup yang enak dan pelampiasan terhadap nafsu malas. Mindset yang mengatakan bahwa bisnisman itu adalah orang yang bergaya hidup nyantai namun uang akan datang mengalir dengan sendirinya, hendaknya diminimalisir terutama di awal-awal membangun bisnis. Paling tidak harus ditanamkan pada tahun pertama sampai tahun ke-5, bahwa itu merupakan tahun-tahun penuh kerja keras.

Baru jika sistem sudah terbentuk nantinya, silahkan untuk sedikit bersantai menikmati hasil.

 

Semoga bisa menambah sedikit wawasan kita tulisan saya yang singkat ini, baik bagi diri saya pribadi maupun pembaca.