Assign modules on offcanvas module position to make them visible in the sidebar.

Main Menu

jangan menikah lagi

 

Mungkin pernah terbetik di benak Anda keinginan untuk menikah lagi. Atau jangan-jangan malah sering dan sudah mengakar keinginan tersebut? Bayangannya bahwa menikah lagi itu enak. Ada rasa kebanggaan dimana anda memiliki kelebihan dibandingkan orang lain. Ketika orang lain istrinya hanya satu sedangkan Anda setidaknya memiliki dua istri. Bukankah itu kebanggaan?

 

Atau mungkin juga ada sensasi lain. Pikiran sederhananya jika bosan dengan istri pertama atau dimarahi istri pertama, maka bisa dengan mudah tinggal loncat ke istri kedua. Bukankah itu kesenangan?

Ya benar sekali itu adalah sebuah kesenangan. Kalau emang kita berpikiran pragmatis ya memang seperti itu. Tapi tentu segala sesuatunya kan perlu dipikirkan masak-masak. Memang hukum asaln syariatnya menikah harusnya kan yang utama adalah 2 isteri, baru kemudian 3 isteri, lalu 4 isteri, dan baru terakhir jika tidak mampu cukup 1 isteri aja.
 

Namun demikian bahwa setiap syariat yang sifatnya anjuran dan pilihan, maka kita tetap harus memikirkan manfaat dan mudhorotnya. Terutama bagi kita yang masih memiliki jiwa kepemimpinan yang biasa-biasa saja ini memikirkan dan menimbang manfaat dan mudzorot lebih harus lagi. Kecuali jika memang jiwa kepemimpinan anda di atas rata-rata dan bisa mengayomi "bawahan" dengan baik, lalu ditunjang dengan harta yang berlebih, maka sudah sepantasnya anda untuk memiliki istri lebih dari satu itu. Bahkan itu menjadi yang utama malah.

 

Berikut 6 alasan mengapa sebaiknya bagi Anda yang biasa-biasa saja ini untuk sementara selama masih biasa-biasa saja untuk tidak menikah lagi.

 

Yang pertama adalah bahwa Istri anda yang saat ini sudah terbukti.

Adapun si dia kan belum terbukti. Istri anda sudah bertahun-tahun mendampingi anda, memberikan pelayanan kepada anda, dan bahkan sangat tahu karakter anda. Sudah sepenuhnya selama bertahun-tahun bersabar dengan sifat buruk anda, melayani dengan baik kebutuhan anda seperti masakan, servis di ranjang, kebutuhan mandi, kopi, dan lain sebagainya. Tentunya itu merupakan modal yang bagus untuk melanjutkan dengan baik rumah tangga Anda tanpa diganggu oleh pihak ketiga. Bukankah kalau dengan menikah lagi artinya ada pihak ketiga yang menjadi tambahan anggota keluarga anda. Ya kalau karakternya cocok, kalau ndak? Lagian si dia belum terbukti bisa mendampingi anda dengan baik apalagi termasuk mendampingi istri pertama anda.

Apakah anda akan mempertaruhkan sesuatu yang sudah pasti dengan sesuatu yang belum pasti?

 

Alasan kedua adalah bahwa Kecantikan itu semu, pun demikian juga dengan si dia.

Mungkin anda tertarik kepadanya karena kecantikannya atau karena senyumannya yang indah. Biasanya sebelum seseorang menjadi pasangan kita, maka apapun yang dia kerjakan akan selalu tampak menarik bagi kita. Karena biasanya dihiasi pandangan indah oleh setan. Setiap gerak geriknya, lirikannya, jalan kakinya, dan lain sebagainya akan tampak indah. Bahkan taruhlah pisuhannya kepada andapun akan tetap terasa indah. Namun jika sudah menikah maka keindahan tersebut akan berangsur memudar dan berganti dengan ketidak indahan. Saya kira itu sudah pernah anda alami bersama dengan istri pertama bukan? Akankah Anda ulangi lagi?

 

Alasan ketiga bahwa kenikmatan menikah itu cepat pudar, sensasinya sebentar.

Jika yang anda cari adalah kenikmatan semata, maka percayalah bahwa hal itu akan cepat pudar. Sebagaimana seseorang yang memiliki mobil baru maka ketika baru awal-awal bulan pertama, bulan kedua, bulan ketiga, biasanya masih senang sekali karena tunggangannya yang nyaman. Masih nyaman karena masih ada sensasi baru memiliki. Tapi ketika sudah lama, maka rasanya sudah seperti biasa saja. Sudah hampir tidak ada bedanya dengan tidak memiliki kendaraan. Bukankah begitu? Memiliki istri juga sama.

 

Alasan keempat adalah bahwa Istri dua itu rempong.

Iya dan ini benar terutama diceritakan oleh mereka-mereka yang sudah mengalami. Anda bisa bertanya kepada mereka. Coba bayangkan saja, karena harus mengadopsi dua pikiran itu tentu lebih repot dibanding mengadopsi satu pikiran.

Demikian juga dengan layanan misalkan membelikan baju baru, atau membelikan makanan, dan lain sebagainya, maka itu harus memikirkan kedua belah pihak. Keduanya tidak bisa dipukul rata, karena seleranya pasti berbeda. Jangan dikira hal seperti ini hanyalah urusan kecil yang bisa disepelekan. Bahkan yang ada malah urusan kecil seperti ini berpotensi menjadi masalah besar jika kita menyepelekannya sehingga tidak menanganinya dengan baik. Tentu penanganan membutuhkan energi bukan? Jadinya rempong deh.

Kemudian urusan lain seperti jatah membagi waktu kunjungan, yang taruhlah hanya selisih satu jam atau dua jam misalkan, bisa jadi menyebabkan marah dari salah satu istri anda. Atau misalkan ketika anda sakit harus menggilir ke rumah istri lain yang mungkin tempatnya jauh dari tempat anda ini bukankah itu juga sangat merepotkan ?

 

Alasan kelima adalah bahwa Proses menikah lagi itu berat, apalagi untuk kedua kalinya.

 Anda harus menyiapkan surat-suratnya. Adapun pengawasan terhadap surat-surat ini  yang kedua kalinya ini biasanya lebih ketat. Untuk menghindari ribetnya pengurusan surat-surat ini, banyak yang malah menempuh jalan yang salah yaitu menikah sirri saja.

Dan Andapun bisa saja hanya menikah Sirri. Namun anda harus mempertimbangkan masak-masak sebelum melakukan nikah sirri, bahwa Anda harus mempertimbangkan nasib dari anak-anak dari istri kedua ini di kemudian hari. Kalau anda tidak mendaftarkan pernikahan ada yang kedua ini ke pemerintah, di kemudian hari berpotensi anak-anak anda akan susah untuk dimasukkan ke sekolah karena tidak memiliki akte kelahiran dan surat-surat penting lainnya. Niscaya Anda bisa dicap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab dan tidak adil terhadap kedua istri anda maupun anak-anak anda dari istri kedua dan seterusnya.

Selain itu jangan dilupakan tentang urusan dengan calon mertua yang biasanya juga lebih susah. Proses lobi yang akan berjalan lebih lama dari pada saat pernikahan pertama. Ya tentu saja karena status anda yang sudah berbeda dengan saat pertama kali menikah. Kali ini status anda sudah merupakan suami orang. Hal-hal yang seperti ini tentu sangat merepotkan. Urusannya sudah bukan pada lagi masalah kesenangan semata tetapi sudah merupakan nilai yang harus ditebus untuk menebus sebuah sensasi kesenangan semu. Dan itu menurut saya tidak terlalu worth it. Nilai yang harus ditebus sudah terlalu besar untuk sebuah kenikmatan yang sifatnya semu dan sementara seperti yang sudah saya uraikan di atas.

 

Alasan yang ke-6 adalah bahwa Lebih berat dalam urusan nafkah.

Jika pendapatan anda tidak terlalu besar atau biasa-biasa saja sebagaimana kebanyakan orang, maka untuk menafkahi dua istri tentu lebih berat. Karena nafkah yang seharusnya untuk 1 orang dibagi 2. Anda harus lebih giat lagi bekerja. Dengan menambah jam kerja, tentu akan menyebabkan tenaga anda lebih banyak terkuras. Dan saat pulang harus menemui dua orang istri yang harus anda nafkahi malah akan menjadi lebih terkuras lagi. Hal seperti ini pun juga harus anda pikirkan masa-masa sebelum melangkah. Sudah siapkah tubuh anda?

 

Alasan ke-7, repotnya mempersaudarakan antar isteri, anak, dan antar keluarga besar.

Konsekuensi dari menikah lagi adalah mempersaudarakan. Tentu semakin banyak orang yang perlu dipersaudarakan niscaya semakin susah lagi mempersaudarakan mereka. Urusannya sudah bukan lagi mempersaudarakan antar kedua isteri, tapi juga anak-anak dari kedua isteri. Letupan sedikit saja bisa memicu letupan besar. Tuduhan-tuduhan terhadap anda bahwa anda tidak berlaku adil akan mudah muncul jika anda tidak bisa menampilkan wibawa anda. Mempersaudarakan antar dua wanita aja sulit apalagi mempersaudarakan antar anak-anak mereka atau bahkan keluarga besar keduanya. Bukankah ini faktor yang harus juga anda pikirkan berkali-kali jika ingin menikah lagi?

 

Alasan ke-8 adalah bahwa Anda harus berlaku adil.

Sudah merupakan konsekuensi wajib jika dengan menikah lagi anda harus berlaku adil. Anda sudah tidak bisa lagi curhat-curhatan dengan salah satu isteri anda. Kalau yang dulunya anda begitu mudah berdiskusi dengan isteri (pertama) dengan seakan tanpa sekat karena semua bebas anda utarakan tanpa penghalang, maka ketika anda sudah punya isteri lain anda sudah tidak bisa dekat lagi dengan isteri pertama anda atau salah satu isteri. Karena anda harus belaku adil.

Adil disini maknanya adalah tidak hanya urusan harta dan nafkah, bahkan dalam urusan informasi anda harus adil. Karena jika anda hanya memberikan informasi ke salah satu pihak mengenai urusan dunia anda, niscaya isteri yang lainnya bisa saja merasa terdzolimi. Imbasnya bisa anda menjadi tidak adil dalam nafkah karena dipicu oleh reaksi kemarahan berlebihan dari salah satu isteri.

 

Hingga akhirnya tulisan ini sampai pada kesimpulan akhir pertanyaan : Worthed kah jika saya menikah lagi. Jangan-jangan hanya mengikuti perasaan saja tanpa logika yang jelas. Atau hanya mengikuti sensasi yang dihembuskan setan seperti kenikmatan tadi yang seakan-akan nikmat ketika belum dimiliki, namun ketika sudah dimiliki biasa-biasa saja atau malah menjadi beban. Pikirkan juga berbagai masalah yang mungkin akan Anda hadapi ketika menikah lagi.

 

Tulisan ini sifatnya adalah berobyek pada sebagian besar orang di jaman sekarang dengan jiwa kepemimpinan yang rendah, ilmu yang kurang, dan penghasilan yang pas-pasan. Adapun bagi anda yang mampu dimana jiwa kepemimpinan anda bagus, ilmu yang mumpuni, atau bahkan uang yang banyak, maka ceritanya lain lagi. Mungkin akan kita bahas di lain waktu.