Assign modules on offcanvas module position to make them visible in the sidebar.

Main Menu

Antara Pikiran Lateral dan Paralel

 

Suatu saat anda mengikuti sebuah seminar bisnis, hadirlah disitu coach-nya adalah seorang lelaki muda perkiraan umur 30 tahunan, seorang pengusaha sukses dengan memiliki banyak perusahaan besar dengan tampang keren dan parlente.

 

Apa yang terpikir di benak anda saat dikasih tau bahwa pemuda keren ini telah sukses. Bahwa dia sudah berbisnis sejak umur 7 tahun ?

 

Jawabannya mungkin banyak. Tapi kesemuanya di benak kita adalah pikiran bahwa dia dari umur 7 tahun sampai dengan umur 30 tahun ada di garis edar seorang pebisnis. Diantaranya adalah kita berpikir bahwa :

Orang ini adalah orang yang sukses, dia sudah menggeluti bisnis selama 23 tahun.

Orang ini tentunya juga sudah jatuh bangun berpengalaman di dunia bisnis namun sangat ulet tak gampang patah semangat.

Orang ini adalah pebisnis yang suka bekerja keras.

Orang ini sudah memiliki kekayaan yang banyak yang mungkin sudah ratusan miliar atau triliunan dari menggeluti bisnis terus-menerus sejak kecil.

Orang ini adalah pakar di bidang bisnis sehingga bisa memberikan wacana dan ilmunya untuk orang lain yang lebih Junior dari dia yang butuh menimba ilmu kepadanya. Tentu saja karena dia selalu di garis edar seorang pebisnis selama ini dan ndak di dunia lain dalam mencari nafkah.

 

Ya itu pemikiran lateral namanya. Hanya karena dia sudah menggeluti bisnis di umur 7 tahun maka sepanjang hidupnya sampai dengan umur 30 tahun dia selalu di dunia bisnis.

 

Padahal di luar itu ada masih banyak berbagai kemungkinan yang terjadi pada orang tersebut. Diantaranya bisa jadi setelah dia umur 8 tahun dia meninggalkan dunia bisnis kemudian sekolah saja seperti kita juga, dan baru setelah selama 10 tahun kemudian lulus kayak kita, kemudian bekerja di sebuah perusahaan. Atau bisa jadi juga dia nganggur lama tak ada kegiatan bisnis sama sekali. Atau bisa jadi juga dia kemudian menikah kemudian punya anak dan tidak melakukan kegiatan bisnis namun bekerja saja jadi pegawai. Dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang lain yang itu tidak selaras dengan kegiatan bisnis sama sekali, baru kemudian dia bisnis lagi sesudah umur 30 tahun.

 

Tidak bisa dipungkiri kebanyakan kita memang berpikirnya seperti itu, yakni berpikir lateral. Jarang dari kita yang bisa berpikir zigzag atau pararel. Sehingga pemikiran seperti ini (lateral) dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu dalam menebarkan wacana atau opini yang seringkali menyesatkan.

 

Biasanya kecenderungan manusia untuk berpikir lateral ini dimanfaatkan oleh oleh seseorang untuk endorsement atau sejenisnya. Kecenderungan cara berpikir manusia kalau kita kelompokkan di dalam ilmu pengetahuan masuk dalam bidang psikologi persepsi. Saya dulu belajar ilmu ini, cuman nggak maksimal. Waktu itu ketika masih kuliah di jurusan desain produk, karena di jurusan itu juga butuh mempelajari ilmu psikologi kecenderungan berpikirnya manusia.

 

Manusia biasa berpikir lateral. Semuanya seakan seri. Padahal tidak. Faktanya : Kehidupan manusia itu lebih paralel daripada paralel itu sendiri. Hanya karena dia sudah jadi pebisnis ketika masih kecil bukan berarti akan jadi pengusaha besar ketika dewasa.

 

Hikmahnya apa? Diantara hikmah nya adalah :

 

Hikmah pertama, Jangan pernah down ketika mendengar kisah seseorang.

Kok bisa?

Ada sebagian dari kita ketika mendapatkan ilmu motivasi dari seorang coach justru kita malah down. Kenapa ya? Salah satu alasannya adalah mendengarkan kisah sebagaimana kisah pemuda 30 tahun diatas. Bagaimana tidak down karena dikisahkan bahwa untuk menjadi seorang pengusaha sukses di usia 30 tahun seakan-akan harus sudah mulai berbisnis sejak usia 7 tahun. Ya sementara yang di coaching adalah rata-rata sudah usia diatas 25 tahun atau bahkan mungkin banyak yang diatas 35 tahun. Bagaimana mungkin orang yang sudah di atas 35 tahun bisa memutar hidupnya kembali ke usia 7 tahun untuk memulai bisnis agar sukses di usia 30 atau 35 tahun? Tentu sebuah kemustahilan. Inilah biasanya yang membuat down.

 

Jangan pula terlalu optimis.
 

Demikian juga sebaliknya ada diantara kita ketika mendapatkan kode dari orang seperti di atas tadi jadi optimis berlebihan. Alasannya mengapa? karena yang menjadi mentor nya adalah orang yang sudah 23 tahun berpengalaman (hasil dari umur 30 tahun dikurangi umur 7 tahun) di bidang bisnis sehingga kita berpikiran pasti bisnisnya sudah mantap sekali dan nyaris sempurna.
 
Padahal harus kita sadari bahwa rezeki itu datangnya dari Allah. Sehebat apapun ilmu dari seorang coach kalau tidak dikehendaki oleh Allah tentu tidak akan berhasil. Selain itu dari sisi kauniyah nya pun juga selalu ada celah kesalahan sehebat apapun dan se-berpengalaman apapun orang yang menjadi mentor nya itu. Lagian setiap bisnis memiliki karakteristik sendiri-sendiri, jadi tidak bisa disamakan satu sama lain. Bahkan sebuah bisnis yang memiliki core yang nyaris sama pun pasti memiliki perbedaan yang tidak bisa disamakan persis.
 
 
Jadi solusinya bagaimana?
 
 
Yang pertama adalah ya biasa saja
.

Intinya biasa saja. Jika didalamnya mengandung ilmu ya terima dan amalkan. Namun tidak perlu terpengaruh sugesti yang bermacam-macam, apa lagi menyangkut latar belakang yang dia lalui selama ini.

Dan yang paling utama dalam hal ini adalah dihayati benar-benar bahwa Ingatlah hanya Allah Yang Maha Menentukan.

 

 

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {59}

 

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59).

 

Solusi yang kedua adalah, buktikan bahwa anda bisa. Jadilah diri sendiri!

Maknanya adalah umur berapapun anda dan telah melewatkan apapun anda, anda insyaAllah tetap bisa sukses. Dan sesukses apapun anda ketika masih muda, anda bisa saja masih akan menjadi hancur sehancur apa pun ketika sudah waktu berlalu sekian tahun ataupun ketika usia tua nanti, na’udzubillahi mindzalik. Semua memiliki garis edarnya masing-masing. Kita bisa belajar dari perputaran planet pada porosnya masing-masing. Tidak besar tidak kecil semuanya memiliki garis edar masing-masing. Masing-masing orang beda garis edar.

 

Solusi yang ketiga adalah menanamkan ke dalam hati jawaban obyektif terhadap pertanyaan berikut : Apa jika seseorang sudah sukses di usia muda dia akan sukses selamanya ?

Jawabnya adalah belum tentu. Adakalanya sukses saat usia muda, adakalanya sukses saat usia tua. Adakalanya sehabis sukses kemudian terjungkal. Adakalanya terjungkal dulu kemudian sukses. Ndak masalah, insyaAllah semuanya hasilnya akan baik jika direspon dengan baik pula. Makna sukses disini tentu dalam artian sukses dunia.

 

Solusi yang keempat adalah menghayati bahwa yang terpenting bahwa kaya ( baca: sukses) itu adalah di dalam hati.

Sebanyak apapun harta yang anda kuasai jika memang Anda tidak memiliki rasa cukup niscaya Anda masih tetap tersiksa sebagaimana siksaan yang dirasakan oleh orang yang tidak memiliki apa-apa. Karena dengan berpikir anda tidak merasa cukup, maka yang anda pikirkan adalah segala sesuatu yang belum ada di tangan Anda, bukannya apa-apa yang sudah anda di tangan anda. Jadi nuansa siksaan itu tetap menggelayuti hati dan jiwa anda.

Lain ceritanya jika seseorang (meskipun taruhlah dia miskin sekali) tapi fokus pikiran nya adalah pada menikmati apa yang ada di tangannya. Maka dirinya menjadi merasa cukup senang dengan apa yang ada padanya tersebut. Dia telah merasa memiliki segala-galanya. Sehingga pada hakekatnya dia adalah orang yang paling kaya. MasyaAllah.

 

Solusi kelima adalah dengan mengingat-ingat fakta bahwa begitu betapa banyak orang kaya yang tidak tenang hidupnya.

Salah satu alasan mengapa hidup seorang kaya tidak tenang adalah sebagaimana yang saya sebutkan diatas di solusi ke tempat tersebut di atas. Alasan lainnya adalah betapa banyak orang yang kaya tapi di sisi lain tidak menikmati kekayaannya. Diantara sebabnya ya karena harus bergelut dengan permasalahan penyakitnya yang kronis misalnya, atau anak-anaknya yang tidak patuh padanya, atau istrinya yang selingkuh, atau kekayaannya merupakan jaminan pinjaman ke bank sehingga dia harus jungkir balik siang malam mengejar tagihan bank agar terlunasi. Dan tentunya seabrek permasalahan lain. Dengan mengingat sisi-sisi lain kekayaan yang didapatkan orang ini, insya Allah akan menjadikan hati kita lebih tenang dan rileks dalam menjalani hidup

 

Solusi keenam adalah memikirkan fakta bahwa kenyataannya Rejeki sudah digariskan.

Allah Ta’ala berfirman,

 

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

 

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)

 

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)

 

 

Solusi ke-7 adalah dengan menghayati dan memahami dengan baik bahwa faktanya adalah Sifat rejeki di dunia selalu ada sisi tidak enaknya.

Sebagai contoh seseorang yang memiliki mobil Ferrari keluaran terbaru yang harganya miliaran atau puluhan miliar. Kita berpikir lateral, sekali lagi. Bahwa orang yang memiliki ferrari mahal, dengan gaya hidup parlente, baju bermerk terkenal yang mahal, didampingi oleh cewe cantik,... adalah merupakan orang yang selalu dalam kondisi enak di setiap sudut hidupnya.

Padahal tidaklah demikian. Setiap kenikmatan dunia selalu berkonsekuensi ada tidak enaknya. Sebuah mobil ferrari, bagaimana ngurus bengkelnya?

Apa di setiap pelosok desa ada bengkelnya? Bagaimana pula bahan bakarnya?

Bisakah dikasih minum bensin biasa?

Bagaimana pula jika ada orang iseng yang kasih goresan di lambungnya?

Atau kasih lumpur di knalpotnya sehingga mogok?

Atau bagaimana jika dicuri karena harganya yang mahal menarik orang untuk mengambil dan menjualnya?

Memang selalu ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Tapi setidaknya hal tersebut sudah cukup untuk menambah beban sang empunya.

 

Solusi ke-8 adalah benar-benar memahami dan menanamkan dalam hati bahwa dalam hidup di dunia ini adalah prinsip : Kejarlah rejeki sesungguhnya yakni Nikmat hakiki surga nanti di alam sana.

Segala sesuatu yang sifatnya kenikmatan dunia itu adalah kenikmatan semu. Mengapa disebut kenikmatan semu? Beberapa alasannya adalah sebagaimana yang saya sebutkan diatas. Namun sifat semu tidak ada pada nikmat yang sesungguhnya yaitu surga. Bahkan surga adalah sebesar-besar kenikmatan yang kita tidak pernah membayangkan sebelumnya, belum pernah mendengarkan, belum pernah melihat, belum pernah terbayangkan sama sekali kayak apanya dan tidak akan pernah sanggup membayangkannya ketika kita masih hidup di dunia ini.
 
Oleh karena itu sudah sepantasnya lah kalau kita menyingkirkan orientasi dunia yang sedikit ini dengan menggantikannya dengan orientasi surga yang jauh lebih besar dan nikmatnya selama-lamanya yang tak ada cela sedikit pun itu.

Amanah SolutionAmanah Solution

 

Solusi ke-9 adalah tetap berusaha Mencari dan menggunakan dunia sesuai syariat.

Namun di dalam mencarinya tetap harus santai dan biasa saja tidak usah tergopoh-gopoh dengan usaha yang keras. Karena tetap saja jika usaha seberapapun rezeki sudah ditetapkan. Kalopun toh taruhlah ekstrimnya kita gak punya dunia samasekali dan gak bisa menggapainya, masih ada hal lain untuk beramal. Apa amalan itu? Menulis yang baik-baik misalnya...berdoa, beribadah, dll... Itulah yang bisa kita lakukan untuk mencapai kehidupan bahagia yang hakiki yang sesungguhnya di surga.

 

“Apa yang bisa kita lakukan untuk kebaikan kehidupan hakiki surga, maka lakukanlah!”