Cara sederhana melihat betapa Allah itu Maha Adil.

Saya adalah tipe orang yang makannya banyak. Saya ndak merasa kenyang kalau belum menghabiskan 2 piring lebih. Itupun harus porsi besar. Suatu ketika saya makan bersama seorang teman. Teman ini makannya sedikit. Bahkan teramat sedikit. Sepiring aja tidak penuh, paling separonya.


Saya tanya ke dia : "Kok makanmu sedikit ?"

Dia jawab enteng : "ya emang makanku segini."
"Ndak nambah ?", lanjutku sambil menyodorkan seentong nasi ke piringnya.
"Udah.. udah.. ndak kuat..." dia jawab agak lantang (sebagai tanda penekanan), sambil memegangi perutnya karena udah gak kuat lagi.

Disini saya jadi berpikir. Ternyata manusia itu porsi makannya beda-beda. Secara ektrim saya sama teman saya ini jauh sekali bedanya. Dia cuman separo sementara saya 2 piring ektrim seringnya masih nambah.

Begitulah manusia. Diciptakan oleh Allah dengan banyak perbedaan. Meskipun dari kapasitas makan saja sudah bisa kita simpulkan bahwa kadar kapasitas rejeki manusia memang berbeda-beda di berbagai segi.

Ada manusia yang pinter sampai bisa menjadi profesor, ada yang tidak tamat SD. Ada yang pinter sekali fisologi sehingga menjadi dokter handal. Namun ada juga yang blas ndak bisa apa-apa biologi tapi malah pinter dagang, jadinya dia saudagar besar. Tentu jangan disamakan kapasitas kedua manusia ini.

Oleh karena itu sangat tidak relevan jika rejeki juga disamakan. Allah pun kasih rejeki ke kita juga beda-beda. Allah Maha Tahu dengan kapasitas perut hamba-Nya. Mungkin ada sebagian kita yang sanggup menerima rejeki banyak, tapi tidak sedikit yang tidak mampu akhirnya gagal dalam ujian. Dimana rejeki yang banyak malah membuat dia sombong. Betapa banyak...

Jadi, rejeki itu tidak bisa disamakan. Ada yang muatnya cuman sejuta, ada yang sampai semilyar. Ndak usah ngiri. Mengapa ?

Karena jangan lupa bahwa setiap hal di dunia ini selalu mengandung ujian. Ada sisi enak, tentu ada juga sisi tidak enaknya.

Orang makan porsi besar enaknya bikin tenaga besar. Tapi ada tidak enaknya, misalnya potensi diabetes juga tinggi. Demikian juga porsi dikit yang bikin tenaga kecil dan badang kurus. Tetapi enaknya lebih enteng lari jarak jauh. Dan seterusnya. Termasuk duit sedikit dan duit banyak sama-sama memiliki resiko sendiri-sendiri. Ukuran kita mungkin kapasitasnya cukup sejuta saja, karena bisa jadi jika dikasih semilyar malah bikin tidak bisa tidur atau kena serangan jantung mendadak. Sudah, sukuri aja yang ada. 


Kalau semua minta serba sama-sama enak, dan tanpa resiko, ya itu surga namanya. Jika kita pingin yang enak-enak berarti kita masih bersih fitrahnya. Kita masih menginginkan surga. Jadi gapailah surga dengan cara mentaati perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.

Maka dari itu kita juga perlu bersukur dengan rejeki sedikit (versi kita). Karena bisa jadi jika banyak, perut kita ndak muat. Atau hati kita yang ndak kuat, akhirnya tergelincir.

Allah Maha Adil.