Allah Maha Besar

Segala puji bagi Allah yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Tidak ada satupun di alam semesta ini yang tidak atas sepengetahuan Allah. Tidak ada satupun makhluk thithit thuit apapun itu dari yang paling besar makro kosmos sampai dengan makhluk yang paling kecil mikro kosmik yang tidak terlihat oleh mata manusia, yang bukan merupakan kehendak Allah dalam menjalankan dan mengaturnya.


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ

Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah ash-Shamad (Penguasa Yang Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu) (QS : Al-Ikhlâsh/112:1-2)


Makhluk yang bahkan tidak bisa dilihat oleh mikroskop kecuali mikroskop elektron pun, itu sudah tentu merupakan ciptaan Allah dan Allah pula yang mengatur rejekinya dan gerak tingkah lakunya. Bahkan yang tidak terendus oleh jangkauan manusia masih sangat banyak yang itu sudah pasti adalah bagian dari ciptaan Allah dan dijalankan oleh Allah. Semuanya bertasbih menyucikan Nama Allah. Semua tunduk hanya kepada Allah. Tidak ada protes, tidak ada maksiat seperti yang biasa dilakukan manusia, semua berjalan atas hukum Allah.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) ibadah dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nuur: 41)


Planet-planet yang begitu banyak, galaxi dan tata surya, black hole, meteor, komet, debu antariksa, dan segala pergerakan benda-benda di langit kesemuanya merupakan ciptaan Allah, dan Dia pulalah yang menjalankannya di masing-masing garis edarnya. Semuanya tunduk dan patuh hanya kepada Allah. Kesemuanya tidak memiliki daya dan kekuatan sama sekali, kecuali atas pemberian Allah dan atas kehendak Allah. Semuanya mereka itu mensucikan Allah. Semuanya takut kepada Allah.

Dialah Allah yang beristiwa' di atas Arsy. Arsy adalah makhluk Allah terbesar dan berada di atas langit ketujuh. Arsy Allah berada di atas air. Tapi tetap saja tidak ada yang lebih tinggi dari Allah. Bahkan tidak perlu dibandingkan.

Dialah Allah Yang Maha Besar dan Maha Tinggi. Jangan bayangkan istiwa' Allah di atas Arsy seperti duduknya seorang raja di atas singgasananya. Tidak sama sekali. Otak kita manusia ini sangat terbatas, tak mampu membayangkan Allah, itu sudah pasti tak perlu ditanyakan. Jadi otak kita harus diluruskan klo ada yang tidak beres. Otak hanya mampu membayangkan sesuatu yang pernah dilihatnya.

Tak akan mampu otak membayangkan sesuatu tanpa impuls sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Allah Maha Tinggi. Allah Maha Besar. Allah beristiwa di atas Arsy-nya yang besar dan tinggi. Tapi Allah tidak butuh Arsy. Justru Arsy-lah yang butuh kepada Allah. Jangankan Allah, bahkan makhluk saja tidak mesti yang diatas butuh kepada yang di bawah. Seperti langit misalnya yang tidak butuh kepada bumi.

Otak kita banyak yang tersesat membayangkan bahwa yang diatas butuh kepada yang di bawah. Otak manusia sudah kadung terbelenggu seperti yang pernah diliatnya. Seorang raja yang lagi duduk di atas singgasana jelas butuh kepada singgasananya. Karena raja tersebut masih terikat dengan hukum gravitasi. Jika singgasana ditendang, maka jatuh terguling-gulinglah sang raja tersebut. Tapi tidak dengan Allah. Maha Suci Allah dari persangkaan hamba-Nya.

Allah memang Maha Tinggi dan Maha Besar di atas langit ketujuh, di atas Arsy sana. Tapi pengetahuan Allah tetaplah meliputi segala sesuatu. Bahkan kehendak Allah juga meliputi segala sesuatu. Tidak ada satu titik kejadianpun di muka bumi ini, atau bahkan di penjuru manapun di alam semesta ini yang bukan merupakan kehendak Allah. Tidak ada satu titik kecilpun maupun besar di alam semesta ini yang bukan bagian dari pengaturan Allah. Semua tunduk dan patuh kepada Allah. Tidak ada yang mampu bergerak atau diam sekalipun tanpa kehendak Allah.

Otak kita sekali lagi sering terbelenggu oleh keterikatan dengan kejadian yang pernah di lihat. Ketika pernah melihat bahwa tidak mungkin orang yang jauh nun disana bakal bisa memonitor dan mengendalikan kejadian di sini, maka otak manusia menyimpulkan bahwa semua hal tidak bisa memonitor dan mengendalikan dalam jarak jauh. Inilah kesimpulan parsial. Lihatlah bagaimana saat ini dengan teknologi Smart Home, manusia bisa mengendalikan keadaan rumahnya, bisa mematikan listrik rumahnya, bisa mematikan TV, menghidupkan air, membuka pintu, mengunci pintu, dan banyak lagi. Seringkali otak kita sendiri membodohi diri kita. Itulah lemahnya otak manusia.

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qaaf : 16).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَالَّذِى تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ

“Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian” (HR. Muslim no 2704).

Maknanya adalah pengetahuan Allah sangat dekat dengan kita. Sebagaimana di atas, bahkan kita semua atas kendali Allah. Itulah makna dekatnya Allah pada diri kita.


Ketika kita makan, maka sesungguhnya Allahlah yang ngasih kita makan. Ketika kita haus, maka Allahlah sesungguhnya yang menyediakan air untuk kita minum. Ketika kita menemukan air di dalam kulkas, air yang sejuk lagi nikmat itu, maka sesungguhnya itu semua merupakan kehendak Allah dalam memberikan rezeki kepada kita.

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As Shaffat : 96)

Allah menciptakan alam semesta dalam 6 masa. Itu sangat mudah bagi Allah. Dan Dia tidak ada merasa capek. Mengapa diciptakan dalam 6 masa ? Kenapa tidak sekali ketuk saja ? Kenapa tidak setahun, sebulan, sehari saja ? Tentu ada hikmah besar di balik itu semua yang hanya Allah Yang Maha Tahu. Manusia hanya perlu mengimani apa yang sudah tertera dalam AL Qur'an dan Sunnah Nabi-Nya yang mulia Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam. Itu sudah cukup. Diantara hikmah tersebut adalah sebagaimana yang difirmankan dalam Al Qur'an.


وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya” (QS. Huud: 7)


Manusia dilarang melampaui batas. Otak manusia terlampau lemah untuk menerima lebih dari itu. Betapa banyak kaum pandir yang akhirnya justru gila atau lebih parah lagi tersesat karena melampaui batas dalam menggunakan otaknya untuk sesuatu yang melampaui kapasitas otaknya.

Sudah cukup itu semua sebagai pelajaran bagi kita. Tidak perlu kita berpikir pada hal-hal yang keluar dari kemampuan otak kita. Bahkan memikirkan ciptaan Allah saja banyak yang bikin kita stress. Betapa banyak yang mikir rumus-rumus matematika aja tidak becus. Padahal itu hanya satu diantara sekian milar trilyun ciptaan Allah. Manusia sungguh sangat bodoh. Sadarlah wahai manusia.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {}

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59).

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. Al Ahzab: 72).


Allah menciptakan 7 lapis langit. Dimana antar langit berjarak 500 tahun perjalanan. Demikianlah sampai langit ketujuh masing-masing berjarak 500 tahun perjalanan. Kemudian di atas sana ada kursi Allah dan Arsy Allah. Perbandingan bumi dengan langit adalah seperti dalam sabda Rasulullah berikut :

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلاَةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلاَةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ.

“Perumpamaan langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi seperti cincin yang dilemparkan di padang sahara yang luas, dan keunggulan ‘Arsy atas Kursi seperti keunggulan padang sahara yang luas itu atas cincin tersebut.” (HR. Muhammad bin Abi Syaibah dalam Kitaabul ‘Arsy, dari Sahabat Abu Dzarr al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu . Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (I/223 no. 109))

Kemudian perbandingan antara Langit, Kursi Allah, dan Arsy Allah sebagaimana disabdakan Rasulullah dalam hadits berikut :

مَا السَمَوَاتُ السَبْعُ وَالأَرْضُوْنَ السَبْعُ وَمَا بَيْنَهُنَّ وَمَا فَيْهِنَّ فِيْ الكُرْسِي إِلاَ كَحَلَقَةِ مُلْقَاةٌ بِأَرْضِ فَلاَة وَإِنَّ الكُرْسِي بِمَا فِيْهِ بِالنِسْبَةِ إلَىالْعَرْشِ عَلَى كتِلْكَ الحَلَقَةِ عَلَىتِلْكَ الفلاَةِ

“Tidak langit yang tujuh dan bumi yang tujuh dan apa yang ada diantara dan di dalamnya dibandingkan dengan Kursi kecuali seperti lingkaran (gelang) yang dilempar ke tanah lapang, dan Kursi dengan apa yang ada didalamnya dibandingkan dengan Arsy seperti lingkaran (gelang) tersebut pada tanah lapang tersebut.” [Silsilah Ahadits al-Shahihah No.109].


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allahlah yang menciptakan tujuh langit ; dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah maha berkuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”.[Ath-Thalaq/65: 12]


Allah-lah yang mengatur bumi ini. Bahkan seluruh alam semesta di bawah kehendak Allah semuanya. Yang memberi kita makan, yang memberi kita minum, yang menyediakan pakaian, yang menyediakan tempat tinggal, yang memberi rejeki saban hari, yang memudahkan semua urusan kita, yang menumbuhkan tetumbuhan dari dalam bumi, yang menurunkan air, yang menghidupkan bumi sesudah matinya dengan sebab perantara diturunkan oleh-Nya hujan. Semua itu merupakan kehendak Allah. Semua itu merupakan ilmu Allah.

Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang Awal dan Yang Akhir. Bahkan Dialah yang menciptakan awal dan akhir itu. Dialah (yang menciptakan) waktu. Waktu tunduk kepada Allah. Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk menyeru kepada Allah sebagaimana berikut :

  اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ  

“Ya Allah, Engkau Maha Awal tidak ada sesuatu pun sebelum Engkau, Engkau Maha Akhir tidak ada sesuatu pun setelah Engkau, Engkau Maha Zhahir tidak ada sesuatu pun di atas Engkau, dan Engkau Maha Bathin tidak ada sesuatu pun di bawah Engkau”. (HR : Imam Muslim: 2713)


Maka sangat bodoh orang-orang yang menyekutukan Allah. Orang Yahudi mengatakan Uzair adalah anak Allah. Sementara orang Nasrani mengatakan Yesus adalah putra Allah. Sungguh sangat berani mulut-mulut mereka mengatakan itu. Allah tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah tidak butuh makhluk-Nya. Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. Termasuk juga pastinya orang paling sesat adalah orang-orang musyrik yang menganggap patung, kuburan, benda yang dikeramatkan, bahkan orang yang sudah meninggal sebagai perantara menuju Allah. Ini adalah merupakan perbuatan yang tersesat sangat jauh dan merupakan sesesat-sesat perbuatan. Tidak ada ampunan Allah bagi orang yang berbuat syirik kalau dosa ini dibawa mati, dan tidak taubat sebelum mati.

Semoga Allah menolong kita semua dari bahaya kesyirikan. Kita wajib selalu berlindung kepada Allah dari bahaya kesyirikan baik dalam amalan maupun perbuatan, terlebih-lebih lagi dalam hal pemikiran/ aqidah.

Berikut doanya :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

Allahumma innii a’uudzu bika an usyrika bika wa anaa a’lamu, wa astaghfiruka limaa laa a’lamu

“Yaa Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari berbuat kesyirikan ketika aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan Mu ketika aku tidak mengetahuinya”. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).


Rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya. Disitulah seharusnya manusia untuk selalu gemar mohon ampun kepada-Nya. Manusia tempatnya dosa, salah, dan lupa. Manusia harus selalu mohon ampun. Bahkan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam aja yang sudah dijamin ampunan oleh Allah baik yang sesudah dilakukan maupun yang belum dilakukan, tetap saja masih mohon ampun beristigfar setidaknya 70 atau 100 kali dalam sehari semalam.

Kitapun harusnya juga begitu meskipun tidak harus sebanyak itu karena itu amalan Nabi, kita tidak kuat melampauinya. Kalaupun bisa, tidak akan bisa istiqomah. Yang terpenting adalah selalu istighfar tanpa menetapkan hitungannya. Karena kalo sudah menetapkan yang tidak ditetapkan oleh Nabi bisa bikin kita terjatuh kepada bid'ah, dan bid'ah adalah amalan kedua setelah kesyirikan yang sangat dibenci oleh Allah.

Tapi juga manusia diberi kehendak oleh Allah. Manusia diciptakan oleh Allah bisa memilih untuk berbuat baik atau berbuat jahat. Manusia bisa memilih untuk berbuat taat atau berbuat maksiat. Manusia bebas memilih apa yang dicenderunginya di dunia ini. Namun pilihan manusia selalu di bawah kehendak Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas ijin Allah.

Dengan kemampuan manusia untuk memilih tersebut berkonsekuensi manusia punya tanggungjawab. Pada yaumul hisab nanti, ketika kita sudah mati dan menghadap Allah nanti, kita wajib mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di dunia ini kepada Allah. Kita akan diadili oleh Allah di hadapan para makhluk-Nya di mahsyar nanti.

Disitulah di yaumul hisab, sebuah hari yang sangat mengerikan. Mengapa? Sudah tentu karena itu merupakan hari penentuan nasib kita. Jika amalan kita selama di dunia dipandang baik oleh peradilan di saat itu, niscaya kita akan masuk surga, insyaAllah. Tapi jika amalan kita jelek di hari itu (Na'udzubillahi mindzalik) maka nerakalah balasannya. La haula walaa quwwata illa billah. Semoga Allah melindungi kita semua dari api neraka meski hanya sejengkal. Karena sudah pasti kita tidak akan kuat menghadapi api neraka. Wallahi.


اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Artinya:
Ya Allah, aku memohon kepada Engkau Surga dan berlindung kepada Engkau dari api Neraka. (Maaf) kami tidak dapat memahami dengan baik gumam Anda, gumam Mu’adz (ketika berdoa).” (HR. Abu Daud no. 762)


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201).

Semoga bisa menjadi sedikit perenungan.