di balik kesuksesan

Dalam hal ini, saya termasuk orang kolot. Saya ini lumayan bisa mengoperasikan joomla (salah satu platform software untuk membuat website). Cuman saya ndak bisa ngoding. Untung saya memiliki istri seorang programmer. Jadi ketika saya dihadapkan pada problem coding, saya tinggal memanggil istri saya yang selalu setia untuk membantu. Mudah.


Bayangkan seandainya jika saya tidak memiliki istri programmer, apa kira-kira saya bakal belajar joomla ? Saya kira tidak. Mengapa ? karena saya punya penghalang. Apa itu ? Saya ndak bisa ngoding sementara belajar joomla tidak lengkap tanpa bisa ngoding. Teramat sering ketika mengoperasikan joomla dihadapkan pada problem pencodingan.
Itulah barrier (penghalang) saya. Sekali lagi untungnya ada backup dari istri saya untuk urusan coding.

Padahal sebenarnya coding itu bisa dipelajari. Mana ada coba orang yang bisa coding atau ilmu tertentu tanpa belajar dulu ? Apalagi hanya sekedar coding dasar untuk memahami joomla. InsyaAllah ndak sampai 2 pekan sudah bisa (kalau pinter dan serius sih). Atau setidaknya 1 bulan lah.

Kalau begitu : Mengapa saya tidak belajar coding aja sekalian ? Pertanyaan sederhana dan mudah sebenarnya diaplikasikan. Tapi banyak orang yang ndak mau menjawab. Apalagi mengaplikasikan. Termasuk saya. Ya akhirnya mandeg. Ndak bisa ngoding.

Ternyata dalam kehidupan ini, banyak orang yang memilih untuk menghindari belajar sebentar untuk akhirnya malah tidak mendapatkan kesuksesan untuk jangka waktu yang jauh lebih lama. Seperti diatas contohnya saya. Sebenarnya cukup belajar coding sebulan insyaAllah, dan saya akan menguasai joomla sepenuhnya. Tetapi saya ndak mampu untuk itu. Malah memilih tidak bisa selamanya. 

-----------------------
Contoh lain :
Seseorang dikasih tau sebuah pekerjaan yang menantang dan bisa menghasilkan uang banyak. Apa itu ? yaitu jadi sales.
Langsung dia menolak. Alasannya ndak bisa ngomong. Lha ini kan sudah ngomong ? Atau maksudnya ndak bisa menjelaskan produk.

Lah itu kan bisa dipelajari. Dan sebenarnya ndak lama juga belajarnya. Kalau mau serius, paling 2 pekan sudah lancar. Abis itu bisa dikembangkan sendiri dengan Learning by Doing. Tapi tetap saja dia tidak mau. Katanya ndak mau saja.

Ya akhirnya bisa ditebak ending-ending-nya. Masa depan cerah sebagai sales dia singkirkan karena tidak mau mendobrak sekedar penghalang tipis kerja keras selama 2 pekan untuk belajar produk. Itulah manusia.

Contoh lain :
Seseorang ingin masuk kuliah jurusan Kedokteran. Dia sangat ingin menjadi seorang dokter. Tapi ironisnya untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran dia harus melewati gerbang yang namanya SPMB. Dimana di SPMB ini di ujikan pelajaran yang tidak dia sukai.

Akhirnya bukannya dia berjuang untuk bisa pelajaran yang diujikan tapi malah banting setir masuk jurusan lain yang grade nya lebih rendah yang tidak dia sukai. Dia lebih memilih tidak pernah jadi dokter selama-lamanya daripada berjuang sedikit untuk bisa beberapa pelajaran yang diujikan di SPMB. Padahal ikut bimbingan sebenarnya juga bisa. Kalaupun toh ndak bisa masuk tahun ini, bisa saja berjuang setahun untuk mendapakkan bangku kuliah kedokteran di tahun berikutnya.

Waktu setahun insyaAllah masih sedikit dibandingkan waktu sekian puluh tahun tidak pernah menjadi dokter dan malah bekerja di bidang yang tidak dia cintai.


Sekali lagi itulah pilihan hidup.
Hanya ya sayang aja. Perjalanan hidup yang akan dilalui berpuluh-puluh tahun ke depan menjadi korban dikarenakan tidak mau mendobrak sedikit saja penghalang tipis yang bisa diselesaikan beberapa pekan atau mungkin hanya dalam hitungan bulan.

Ternyata Kesuksesan itu ada di balik Penghalang Tipis.
Kamu harus Mendobraknya kawan.