Mencoba Menguak Rahasia Kesuksesan Fundraising Digital Narasi.TV – Najwa Shihab

Disaat mayoritas dunia industry sedang lesu terkena dampak dari Pandemi Global Covid-19 ini ternyata masih ada beberapa orang yang berhasil menorehkan prestasi gemilang, terutama jika dikaitkan dengan pengumpulan dana sosial kemasyarakatan. Yang paling fenomenal sampai saat ini masih dipegang oleh Narasi.TV yang digawangi oleh Najwa Shihab.

Melalui sebuah acara galang dana yang melibatkan puluhan seniman untuk kolaborasi bersama, Narasi.TV berhasil mengumpulkan lebih dari 13 Milyar Rupiah untuk disalurkan kepada pihak-pihak yang terdampak oleh pandemic ini di Indonesia. Acara yang digelar secara online selama 4 hari, 25-28 Maret 2020, ini berhasil menyedot perhatian masyarakat untuk berpartisipasi.

Kesuksesan Narasi.TV rupanya membuat pihak lain ingin meniru jejaknya. Kompas TV dengan menggandeng maestro campursari Didi Kempot yang digelari sebagai The God Father of Broken Heart berhasil menggalang dana sebesar 6 Milyar Rupiah hanya dalam waktu 3 jam saja. Kembali kekuatan media yang digabungkan dengan daya tarik pesohor berhasil menyedot aspirasi masyarakat untuk berkontribusi.
 
Tak hanya Kompas TV, Lembaga Pemerintah sekelas BAZNAS pun mencoba peruntungan dengan menggelar acara serupa. Namun kali ini hasil yang diperoleh BAZNAS tak sebaik Narasi.TV dan Kompas TV, meskipun telah menggandeng artis sekaliber Raisa dan menggunakan semua kanal media pemerintah seperti TVRI dan RRI. Penggalangan dana ala BAZNAS ini harus puas hanya mendapatkan perolehan kurang lebih 19 Juta Rupiah saja sampai acara selesai.
 
Hal serupa juga dialami oleh Lembaga Amil Zakat terkemuka Rumah Zakat, melalui Inspira TV nya Rumah Zakat hanya berhasil mengumpulkan 6 Juta Rupiah saja. Setali tiga uang dengan BAZNAS dan Rumah Zakat, vokalis muda Indonesia, Tulus berkolaborasi dengan Erwin Gutawa Orchestra, turut mengadakan konsel amal secara online. Dan lagi-lagi hanya mendapatkan donasi sekitar 8 Juta Rupiah dari target perolehan sebesar 250 Juta Rupiah.
 
 
YUK KITA BEDAH KENAPA NARASI.TV BEGITU SUKSES DAN LAINNYA TIDAK?

Bagi yang suka mengamati perkembangan Digital Marketing pasti sudah familiar atau paling tidak pernah mendengar dengan sesosok mahluk yang namanya "Inbound Marketing". Mahluk ini sukses mencuri perhatian para marketers diseluruh dunia dengan menjelma sebagai Strategy Marketing paling seksi di 5 tahun belakangan ini.

Kalau dulu marketers dan segala aktivitas kampanyenya adalah sesuatu yang bikin alergi customers karena sifatnya yang sangat menganggu dan bikin iritasi, sekarang marketers dan materi kampanyenya malah diburu karena menjadi hiburan tersendiri buat customers. Diburu karena pendekatan kampanyenya jauh berbeda. Sudah tebar permen duluan. Ada coklat, stroberi, tuti-fruti sampe tuti tutanti ada semua. Tergantung kita suka yang mana dan bisa mengambil apa yang kita suka.

Dan dulu...liat iklan 30 detikan pas nonton TV atau iklan pop up di internet yang cuma 30 detik cenderung kita hindari dengan cepet-cepet ganti channel or close pop-upnya. Sekarang 'iklan' malah diburu, dicari didownload malah. Iklan yang 30 detik dihindari, tapi yang durasinya 10 menit malah dicari sampai jadi trending topic worldwide. Aneehh? Mungkin tapi inilah kenyataannya. Dan ini pula yang dilakukan oleh Narasi.TV, mereka membuat video promo yang begitu menarik, yang telah ditonton lebih dari 200 Ribu orang hanya melalui akun Narasi.TV saja, belum lagi yang dibagikan secara sukarela oleh tak terhitung akun-akun lainnya. Luar biasaa!!

Video ini menciptakan fenomena psikologis dalam benak audience, “moment of anticipation”. Membuat mereka berantisipasi sebelum event sebelumnya dating. Inilah trik marketing yang dikenal sebagai Pre Launch Marketing. Pada masa ini Marketers sudah menjelma menjadi para STORYTELLER yang handal. Berbeda dengan teknik marketing konvensional yang lebih memprioritaskan ke teknik bagaimana cara berburu dan membidik customer agar bisa dibombardir dengan ocehan-ocehan promo marketingnya. Ujung-ujungnya tentu saja membuat customer merasa tidak nyaman.

Secara garis besar marketing modern itu ada 3 tahapan. PRE-LAUNCH atau menjelang launching. LAUNCH atau saat Hari-H saat launching dan POST LAUNCH atau hari-hari setelah launching. Dari 3 fase tersebut yg paling krusial adalah PRE-LAUNCH. Karena itu adalah fase dimana "moment of anticipation" diciptakan. Bagaimana membuat pasar menunggu-nunggu produk yg akan kita luncurkan. Kalo sukses PRE-LAUNCH maka dijamin fase-fase selanjutnya akan lancar jaya.. karena sifatnya hanya melanjutkan momentum.

Namun kebanyakan kita sebagai pebisnis itu sering terlena. Fokus pada produk dan layanan dan bagaimana menjualnya tanpa memperhatikan kesiapan pasar untuk menerima produk kita. Istilah dalam marketing adalah “Put The Horse Before The Chariot”. Menyiapkan kuda sebelum kereta kudanya, karena tanpa kuda kereta kuda sebagus apapun tak dapat berjalan.

Begitulah yang dilakukan oleh Narasi.TV dan diikuti oleh Kompas TV namun kurang begitu baik di eksekusi oleh lembaga-lembaga lainnya. Kalau kita sederhanakan maka yang dilakukan oleh Narasi.TV adalah:


PRE LAUNCH:

1. Membuat Video Teaser yang menarik. Melibatkan seluruh penampil menyanyikan kompilasi lagu “Rumah Kita” milik Ian Antono. Video ini begitu pas dengan nuansa #stayathome yang dikampanyekan oleh pemerintah.

2. Video teaser ini sukses dibagikan oleh ribuan akun. Dan menciptakan efek bola salju, membuat “moment of anticipation” audience sangat besar. Bahkan sebelum acara dimulai sudah terkumpul donasi sebesar 600 Juta rupiah dari target 1 I Milyar Rupiah, yang kemudian di upgrade menjadi 5 Milyar.

3. Tim fundraising offline, sudah bergerak menghubungi semua target penting yang bisa membantu fundraising sejak video teasernya di luncurkan. Tim ini dipimpin langsung oleh Najwa Shihab untuk membuka komitmen donasi pada berbagai perusahaan-perusahan besar yang memiliki kepedulian seperti Mayora dan Sido Muncul.


LAUNCH:

1. Kekuatan jaringan sosial media benar-benar difungsikan, dengan menayangkan acara secara online melalui akun Youtube dan Live Instagram, acara ini bisa dibagikan dengan mudah kepada pengguna lain menciptakan jejaring audience yang sangat besar. Tercatat kurang lebih 69.000 orang menyaksikan konser live via online ini.

2. Penayangangan jumlah donasi yang dimulai dari angka 600 jutaan membuat audience mengalami efek psikologis, “Fear of Missing Out”, takut tidak menjadi bagian dari peristiwa bersejarah ini. Hal ini menyebabkan angka donasi terus naik seiring waktu acara berjalan. Bahkan kitabisa.com sebagai pengelola dana fundraising mengupgrade target donasi beberapa kali hingga terakhir mencapai 15 Miliar rupiah dari target awal yang cuma sebesar 1 Milyar rupiah saja.

3. Penanyangan pergerakan donasi secara online juga menimbulkan efek Trust kepada Narasi.TV dan kitabisa.com sebagai penyelenggara kegiatan

4. Komitmen donasi yang sebelumnya dikumpulkan oleh tim fundraising offline, benar-benar membuat pergerakan donasi kian dinamis dan turut menggerakkan semangat para penampil yang terlibat mengisi acara tersebut.


POST LAUNCH:

1. Tak kalah penting dari pre launch, tahap post launch memberikan kepercayaan donator kepada Narasi.TV dan Kitabisa.com bertambah. Pada tahap ini mereka menggandeng beberapa Lembaga sosial untuk membantu menyalurkan dana yang sudah mereka kumpulkan. Lembaga-lembaga itu antara lain adalah Gerakan Saling Jaga, Jaringan Semua Murid Semua Guru, Rantang Hati dan beberapa Lembaga lain yang memiliki akses pada masyarakat terdampak pandemic.

2. Narasi.TV juga secara berkala membuat posting tentang apa yang sudah dilakukan dengan dana yang sudah dikumpulkan. Ini memudahkan masyarakat untuk update informasi terhadap apa yang sudah mereka berikan.

Sebagai penutup disini saya ingin menggaris bawahi, bahwa dalam melaksanakan sebuah event atau launching sebuah produk, tahapan Pre Launch Marketing sangat krusial untuk dilakukan. Apalagi jika ditunjang dengan jejaring kuat dari pihak Lembaga kepada Lembaga lain yang memiliki komitmen yang sama. Semoga kelak jika ada Lembaga lain yang berniat membuat event digital fundraising lainnya, mereka memperhatikan tahapan-tahapan ini dengan baik agar tidak mengalami kekecewaan karena perolehan yang didapatkan tak sesuai dengan target yang mereka tetapkan.

Surabaya, 20 April 2020

Patria A Wijaya