Menghargai proses

Anda bisa lihat, tidak ada orang yang sekonyong-konyong langsung sukses. Bahkan seorang pangeran yang lahir dari keluarga kerajaanpun tetap saja ada proses dalam hidupnya. Dari yang semula hanya bayi mungil yang tidak tahu apa-apa hingga kemudian bisa menjadi raja yang berwibawa dan disegani baik kawan maupun lawan.
Itu semua ada prosesnya.


Suatu ketika anda berkenalan dengan seorang pedagang terkenal. Orang ini kenalannya banyak. Di Indonesia hampir di setiap propinsi dia memiliki relasi ke para petinggi pemerintahan dan juga dewan Pengusaha besar-besar. Demikian juga di Luar Negeri dia memiliki banyak kongsi dengan para pebisnis kaya dari berbagai belahan dunia. Setiap harinya selalu diisi dengan urusan perdagangan besar.

Kemudian suatu ketika anda berkesempatan bertemu dengannya. Anda memiliki jalan untuk mengenal dan dekat dengannya. Tapi anda terlalu terburu-buru. Anda pinginnya cepat-cepat masuk ke lingkaran dia. Padahal dia ndak kenal anda itu siapa dan darimana asalnya. Anda langsung menawarkan bisnis besar kepadanya. Sementara saat itu anda tidak dikenal. Ya terang saja, siapa yang percaya kepada anda ? Malah dia akan meninggalkan anda. Step by step kedekatan emosional tidak anda bangun dulu.

Kesuksesan yang anda lihat darinya saat itu adalah merupakan muara dari sebuah proses yang panjang. Pasti dia tidak serta merta memiliki kedudukan seperti sekarang dimana dimanapun dia berada selalu punya channel bisnis. Pasti dia dulunya memulai dari bawah dimana tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Dulu dia bukan siapa-siapa. Namun dia rajin menapaki proses sampai bisa seperti sekarang. Pentingnya menghargai proses.

Proses ini tidak bisa di cari jalan terabasannya. Dipercepat dengan media mungkin bisa. Itu namanya growth hack. Tapi kalau diterabas tetap tidak akan bisa.

Intinya hormatilah proses.
Anda berbisnispun juga perlu proses. Jangan keburu-buru dan tidak sabaran. Bisnis baru seumur jagung sudah pingin omset besar. Bukannya tidak mungkin, tetapi sulit. Dari seribu, mungkin hanya satu yang bisa.

Orang yang bijak tidak akan menggantungkan pada persentase 1 : 1000. Tapi dia akan menggantungkan pada persentase yang paling besar 999 : 1000. Hampir semua orang sukses melalui proses panjang, inilah prosentase 999/1000 tersebut. Maka tetapi jalan proses ini.

Demikian juga misalnya anda menyukai seorang wanita. Tapi anda main hantam aja. Tidak ada pendekatan lebih dulu. Ya susah. Anda harus pelan-pelan. Ketika anda ketemu wanita cantik di sebuah kereta api, apa mungkin dia mau kalau anda langsung melamarnya saat itu juga Jelas susah, persentasenya teramat kecil kalau tidak mau dikatakan tidak mungkin.

Seorang youtuber dengan puluhan juta subscriber, dia mendapatkan segitu subscriber juga tidak sekonyong-konyong. Apa yang anda lihat sekarang adalah hasil. Proses panjang dia dalam mendapatkan itu semua yang mungkin luput dari yang anda lihat. Atau setidaknya kebanyakan manusia telah terbutakan dengan keadaan dia yang sekarang sehingga tidak bisa melihat dia sebelumnya kayak apa prosesnya.

Itulah dunia, semua butuh proses. Kita harus mengargai proses.
Ulama ahli ilmu juga ada masa-masa lalunya dia berproses mencari ilmu.
Seorang dokter terkenal juga ada proses belajar yang berdarah-darah. Artis ternama juga sama bahkan tak jarang sampai mengorbankan kehormatannya dalam prosesnya.
Penguasa juga sama.

Intinya semua ada proses. Jangan pernah meninggalkan proses.

NIkmati aja proses. Sabar di atasnya. Jangan mudah terpengaruh oleh rumput tetangga yang lebih hijau. Tetap aja berjalan di atas relmu. Tetap aja tinggal di dalam ruang berpikir rumahmu sendiri. Pandanglah rumut depan rumahmu sendiri dengan pandangan rasa sukur dan nilai-nilai positif. Jangan sekali-kali berpikir dari sudut orang lain. InsyaAllah pada saatnya akan ketemu juga jalan yang lempang.

Bisnis juga gitu. Butuh roadmap sendiri dan menikmatinya dengan caramu sendiri. ini bukan tentang perlombaan, ini tentang bagaimana berjalan di atas rel kita sendiri.