perusahaan besar meninggalkan marketplace

Awal mula marketplace didirikan adalah dengan tujuan memudahkan para pedagang untuk memasarkan dagangannya. Pedagang diberikan iming-iming berupa memajang dagangannya secara gratis di marketplace tersebut. Karena namanya marketplace tentu fasilitas nya begitu perfect sehingga sangat menunjang pedagang untuk melakukan kegiatan penjualan.

 

Apalagi ditunjang dengan nama marketplace tersebut yang sudah terkenal dengan pengunjung per harinya yang sangat tinggi. Dengan demikian tentu saja banyak uang atau pedagang kecil yang tertarik bergabung memajang produknya di marketplace.

 

Namun waktu terus berubah. Semakin lama semakin banyak orang yang memajang produknya di marketplace. Bahkan sampai orang yang memiliki produk yang sama saja banyak sekali penjualnya. Sehingga dengan demikian terjadi perang harga. Walaupun harga yang sudah murah sekalipun tetap saja akan ada pedagang pesaing yang berusaha lebih memurahkan dagangannya.

 

Dan yang namanya pembeli selisih harga yang hanya 5% atau 2% pun dia akan lebih memilih tentu yang lebih murah. Sehingga persaingan penjualan di sebuah marketplace lama-kelamaan menjadi tidak sehat.

 

Hal inilah yang menjadi pertimbangan perusahaan-perusahaan besar untuk enggan menggunakan marketplace. Perusahaan-perusahaan besar tidak mau memajang produknya di marketplace dengan alasan menurunkan "harga diri" mereka. Selain akan terjadi perang harga juga akan menyebabkan produk mereka menjadi setara dengan produk UKM.

 

Akhirnya trend-nya memang menjadikan perusahaan besar lebih memilih untuk menghindari marketplace, dan mereka pun berusaha untuk membangun marketplace sendiri khusus untuk produk-produk mereka.

 

Pertimbangan lainnya mengapa perusahaan-perusahaan besar lebih memilih untuk menghindari marketplace adalah karena meskipun secara stored mereka mendapatkan gratisan dari marketplace, akan tetapi taruhan yang diberikan kepada marketplace tersebut dirasa terlalu besar.

 

Apa itu taruhannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah data.

 

Ketika sebuah perusahaan menjadi partner dari sebuah marketplace kemudian mau memajang produknya di marketplace tersebut maka secara kasat mata adalah bahwa seluruh data penjualan oleh perusahaan tersebut akan dipajang di dalam beckend marketplace tersebut. Sehingga otomatis penguasaan data ada di marketplace.

 

Bisa jadi sih perusahaan tersebut mendownload data tersebut namun tetap saja aslinya ada di storage marketplace tersebut. Sehingga dalam hal ini tentu menyebabkan perusahaan riskan. Bagaimana tidak was-was sementara data customer-nya dia, karakteristik customer, behavior customer, dan berbagi data analisis penting lain dikuasai oleh pihak ketiga?

 

 Lets Talk ! 

WA : 0895-3536-988-66
Feel free to ask anything with Ngobiss !

 

Oleh karena itu cara paling aman untuk mengantisipasi kemajuan zaman di mana banyak orang lebih senang belanja secara online maka perusahaan besar harus mengembangkan sendiri marketplace nya. Dengan demikian data sepenuhnya dikuasai oleh mereka sendiri.

 

Hal inilah yang sekarang mulai menjadi trend di dunia perdagangan online. Dimana perusahaan-perusahaan besar lebih menyukai untuk mengembangkan marketplace nya sendiri daripada bekerja sama dengan marketplace lain.

 

Ada 1 contoh kejadian menarik yang memang faktanya banyak hal seperti itu saat ini terjadi di dunia perdagangan online yang menggunakan marketplace.

 

Alkisah ada sebuah bukan di Bandung yang berjualan sepatu di sebuah marketplace ternama di Indonesia. Sepatu itu cukup berkualitas dan merupakan produk lokal dan dia bandrol di marketplace tersebut dengan harga Rp 200.000 per pasang. Lama-kelamaan penjualannya pun laris dan menjadi lumayan top seller di marketplace tersebut.

 

Setelah berjalan beberapa waktu tiba-tiba ada masalah antara dirinya dengan marketplace. Marketplace menuduh dia telah menyalahi aturan sehingga akhirnya secara sepihak dirinya diputus kerjasamanya dengan marketplace tersebut. Masalah kan bisa diada-adakan. Walaupun taruhlah tidak pernah menyalahi aturan apapun.

 

Tak selang berapa lama tiba-tiba di marketplace tersebut telah muncul produk baru lain yang benar-benar mirip dari segi desain dan kualitas namun dengan harga yang jauh lebih murah yakni hanya cukup dengan Rp 150.000 saja.

 

Tentu saja UKM yang pertama kali mendaftar di marketplace itu menjadi heran mengapa bisa jadi sampai seperti ini. Ternyata usut punya usut marketplace tadi telah memiliki supplier yang lebih besar dan lebih murah yakni produk dari Cina. Sehingga tentu saja produk Cina tersebut dijual di marketplace tersebut menjadi laris manis. Karena harganya yang lebih murah dan kualitas yang setara produknya tadi dengan produk UKM sebelumnya.

 

Selain yang paling pokok adalah produk baru ini telah menguasai ceruk yang ditinggalkan oleh UKM sebelumnya dan ditunjang data berupa data yang ditinggalkan oleh UKM tersebut. Data yang dimaksud bisa berupa data jumlah pelanggan, data pembicaraan dengan pelanggan, data kuantitas, behavior pelanggan, dan lain sebagainya.

 

Dan tentu saja sudah masuk di dalamnya adalah data matang yang sudah dianalisis. Dan bahkan inilah yang paling penting karena merupakan senjata utama dalam berjualan.

 

Jadi bagi Anda yang berjualan di marketplace hendaknya lebih berhati-hati saja karena kejadian seperti ini bisa saja dialami kita semua. Semoga sharing yang ini bisa bermanfaat sedikit bagi anda. Yang penting tetap berhati-hati dimanapun anda berjualan.