4 kuadran prioritas hidup

Saya dulu ketika masih mahasiswa pernah dapat wejangan dari mas Rahmad, senior saya. Bahwa dalam hidup ini ada 4 kuadran pembagian kegiatan manusia. Seberapa bermakna hidup seseorang  ditentukan oleh bagaimana manusia menerapkan ke-4 kuadran tersebut dalam dia menjalani hidup ini. Bahkan sampai saat ini ketika umur saya sudah hampir 40 tahun, saya masih belum bisa juga menerapkan kaidah 4 kuadran ini dengan benar. Padahal ketika dapat wejangan itu umur saya masih sekitar 20 tahunan. Gila, 20 tahun ndak paham juga.


Ke-4 kuadran tersebut pertama : pekerjaan yang penting dan mendesak.
Kedua : penting tapi tidak mendesak
Ketiga : tidak penting tapi mendesak
Keempat : tidak penting dan tidak mendesak

Saya pribadi masih sangat sering terjebak pada prioritas kegiatan : tidak penting dan tidak mendesak. Misal mainan hp, liatin video facebook. Pamitnya sih katanya refreshing sejenak aja. Paling 10 menit atau 15 menit. Tapi tak terasa 1 jam atau bahkan 2 jam. La haula wa laa quwwata illa billah. Buang-buang waktu. Atau lebih tepatnya membunuh waktu. Di video selalu ada petunjuk durasinya, bahkan dalam bentuk countdown. Abis itu bisa di cepatkan lagi. Pikir kita ah semenit dua menit gakpapalah, abis itu lanjut kerjaan lain yang lebih penting. Eh ternyata... justru dari situ setan bermain. Digiring untuk nambah liat semenit lagi, 2 menit lagi gakpapa lah... Akhirnya bablas tiba-tiba satu jam. Subhaanallah. Padahal ulama sangat mewanti-wanti kita untuk perhatian dengan waktu.

Pernah ada ulama yang karena sesuatu hal keluar rumah. Pas sedang berjalan dia melihat beberapa orang lagi asik ngobrol tidak penting di pinggir jalan, atau mungkin sedang senda gurau. Mungkin klo jaman kita nongkrong di warkop. Ulama ini berujar (kurang lebih) : "seandainya saya bisa membeli waktu mereka, akan saya beli dengan seluruh harta saya"

Lihat betapa berharganya waktu.

Nah kembali ke keempat kuadran waktu di atas, apa yang paling membuat kita sangat ingin melakukan. Mungkin bisa dibuat peringkat. Mana yang paling penting bagimu. Dalam hal ini kita ngomong kegiatan ya. Jadi jangan sampai mengatakan yang paling penting adalah di atas Tauhid. Jangan sampek. Iya benar karena tauhid adalah yang paling penting dalam hidup seorang hamba. Namun implementasinya namanya di atas Tauhid itu sudah pasti di mana-mana kita pasti harus dijiwai semangat itu. Tauhid jangan dibuat berdiri sendiri. Disini kita katakan kegiatan. Maksudnya amalan.  

Baiklah, mungkin amalan sholat. Itu yang paling penting dan prioritas kegiatan. Tapi ternyata dalam ilmu fiqih, sholat bisa dipending oleh makan ketika makanan sudah tersedia. Ketika iqomah dikumandangkan sementara makanan sudah tersedia, kita dianjurkan untuk makan dulu, bukannya ikut sholat.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَحَضَرَ العَشَاءُ، فَابْدَءُوا بِالعَشَاءِ

“Jika shalat hampir ditegakkan (iqamah sudah dikumandangkan, pen.), sedangkan makan malam telah dihidangkan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR. Bukhari no. 5465 dan Muslim no. 557)

Maksudnya adalah ketika makanan sudah dalam keadaan siap santap, dan kita tidak dikejar-kejar waktu sholat yang sempit pastinya maka itu menjadi prioritas kegiatan.

Demikian juga ketika badan kita bau, atau mulut kita bau, kita diperintahkan untuk membersihkannya dulu dan tidak perlu ikut sholat jamaah. Nah mana yang lebih penting untuk dikerjakan duluan ? Tentu membersihkan diri dan mulut dulu menjadi prioritas kegiatan di waktu itu.

Saya sendiri masih belum bisa menyusun jenis-jenis pekerjaan/ kegiatan disesuaikan dengan ke-4 kuadran di atas.
Mungkin disitu ya seni hidup ini. Dimana paling bagus dalam menerjemahkan kaidah 4 kuadran tersebut maka hidupnya lebih "sukses" dari yang lainnya yang lebih buruk mengimplementasikan 4 kuadran di atas.

Berikut saya coba me-listing beberapa kegiatan dan memberikan penilaian kira-kira masuk kuadran mana :

  1. sholat jamaah di masjid (penting mendesak)
  2. berdoa (penting, mendesak --> jika berada di waktu-waktu mustajab berdoa/ di tempat-tempat mustajab seperti masjidil harom misalnya)
  3. makan (penting mendesak, pas lapar tentunya)
  4. menolong orang kecelakaan (jelas paling penting dan mendesak disaat ada yang butuh di tolong)
  5. mainan hp (liatin video lucu-lucu), (sangat tidak penting dan sangat tidak mendesak)
  6. membalas email dari klien (penting, kadang mendesak kadang tidak, tergantung tingkat kemendesakannya --> ini perlu di breakdown lagi tentunya)
  7. bercinta (penting, kadang mendesak kadang tidak, tergantung libido juga, tergantung godaan juga, ada yang menggoda ndak di luar sana, tergantung situasi juga sedang dekat sama istri apa ndak, ada anak-anak apa ndak ? )
  8. menghadiri undangan walimah teman (mendesak dan penting, karena diperintah Rasulullah untuk menghadiri undangan dan merupakan bagian dari hak pengundang sebagai sesama muslim)
  9. tidur (penting dan mendesak, terutama pas waktunya tidur)
  10. menjenguk orang tua (penting, tapi biasanya tidak mendesak, tapi juga ndak baik kalau diolor-olor terus, tergantung sudah berapa lama tidak menjenguk mereka)
  11. mengajari anak (penting, tergantung waktunya mendesak apa tidak, kalau besoknya ujian tentu biasanya mendesak)
  12. belajar agama (penting, dan harusnya mendesak, namun bisa dijadwalkan, jangan sampai tidak pernah menjadwalkan menuntut ilmu agama, karena orang hidup tanpa ilmu agama adalah musibah)
  13. dan lain-lain.


Listing diatas adalah hanya teori biasanya. Prakteknya banyak kegagalan. Karena ada variabel penimbang seperti : waktu, tempat, dan juga keadaan. Selain itu masih ada kolom variabel lain seperti : kegiatan yang merupakan bagian dari prinsip, kegiatan yang merupakan bagian dari hiburan diri, kegiatan yang merupakan bagian dari nafkah, kegiatan yang merupakan bagian dari pelayanan terhadap orang lain (sebagai bentuk tanggungjawab), kegiatan yang merupakan bagian dari step by step menuju sebuah goal kehidupan kita, dan juga kegiatan yang merupakan bagian dari emosional (misalnya : hobi, kesenangan, hiburan, dll)

Nah intinya apa ? Ndak ada inti hehe...
Intinya adalah hanya menjelaskan bahwa kita harus pandai-pandai melihat kondisi ketika dihadapkan dengan pilihan-pilihan untuk menjadi prioritas hidup atau prioritas kegiatan dalam sebuah situasi. Semisal lagi asyik baca Al Qur'an kemudian ada iqomah ya masak lanjut baca Al Qur'an ? Kenapa tidak segera ikut sholat jamaah ? Sama-sama bagus dan berpahala memang, tapi ada prioritas. Sholat berjamaah terbatas waktunya, paling 10 menit atau 15 menit. Sementara baca Al Qur'an bisa dilakukan kapanpun. Membaca lagi sesudah sholat jamaah kan bisa.

Ya masing-masing kita tentu punya prioritas kehidupan. Wallahua'lam.
Ini hanya sekedar wacana bagaimana seseorang dalam memanfaatkan waktu. Dan liat ternyata kebanyakan manusia gagal dalam memenuhi prioritasnya. Betapa banyak manusia yang masih lebih memilih mengerjakan sebuah kegiatan hanya pertimbangan emosional rasa senang belaka. Tidak berdasarkan prioritas kegiatan level penting dan mendesaknya dalam hidup ini.

Lihatlah, kebanyakan orang sukses (baik sukses dunia maupun sukses akherat - insyaAllah) adalah mereka yang sangat pinter dan komitmen dalam mengalokasikan waktunya untuk kegiatan yang paling penting dan mendesak dalam hidupnya. Jangan bayangkan bisa mengajak Imam Bukhori nongkrong, jelas ndak mungkin itu karena prioritas kehidupan beliau di ilmu dan ibadah. Tapi juga jangan bayangkan seorang Jack Ma untuk tafakkur berjam-jam di dalam masjid untuk iktikaf, wong itu tidak masuk di prioritas hidupnya. Jangankan prioritas hidup, masuk kamus saja tidak.

Semua sesuai prioritas kehidupan masing-masing.
Nah, sekarang apa prioritas hidupmu ?