Kedudukan Akal dalam Manusia Beramal

Islam dibangun diatas 2 pondasi. Yaitu pondasi syar'i dan pondasi akal.

Agar tidak salah paham langsung saja kita terangkan maksudnya. Maksudnya begini :

 

Bahwa dalam kita beragama, setelah membangun aqidah, kita diperintahkan untuk (memperbanyak) beramal. Makna beramal disini tentu saja adalah kegiatan peribadatan dengan menggunakan anggota badan. Seperti misal : sholat, puasa, zakat, haji, bekerja, menuntut ilmi, berinfak, dan sebagainya.

 

Tetapi yang dimaksud disini tentu saja bukan beramal dengan buta. Kita mesti berpikir dalam beramal. Tidak bisa kita beramal tanpa berpikir.


أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ

 

“Maka apakah mereka tidak merenungkan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (QS. Al-Mu`minun: 68).

 

Jadi, tentu tidak bisa kita katakan : Pokoknya kerjakan saja. Bukankah setiap amalan dalam Islam selalu ada syarat dan ketentuannya. Bukankah amalan ada tingkat prioritas nya ? Bukankah ada levelisasi hukum-hukum nya seperti fardhu 'ain, kifayah, sunnah muakaddah, goiru muakkad, dan sebagainya ? Bukankah ada rukshah (keringanan) pada setiap amalan ? Inilah mengapa kita kudu berpikir sebelum beramal.

 

Misalnya saja kewajiban sholat, apakah bisa yang sunnah mengalahkan yang wajib ? Apakah baik kita sholat malam semalaman kemudian malah kesiangan subuhnya ? Apakah boleh sholat 2 kali saja sepanjang tahun yakni 2 kali sholat 'Ied saja ?

 

Lalu apakah orang yang pingsan tetap wajib sholat ? Tidak kan ? Apakah orang yang tidak mampu berdiri tetap wajib sholat berdiri ? Tidak kan ? Justru klo dia sholat dengan berdiri dengan memakai cagak malah dikecam oleh Allah. Artinya dia telah masuk kategori memaksakan diri. Allah tidak suka sedekahNya (baca : keringanan yang Dia berikan), tidak diambil oleh hambaNya. Ini kaidah.

 

Bukankah dalam perjalanan saja kita diberi keringanan untuk tidak berpuasa ? Meskipun boleh tetap berpuasa, tetapi yang afdol tetap berbuka. Karena Allah suka hambaNya menerima "sedekah" yang Dia berikan.

 

Bukankah jika tidak punya biaya tidak ada kewajiban menunaikan ibadah haji ? Bukankah zakat tidak perlu bagi orang yang memang tidak mencapai nishab dan haul ?

Demikian seterusnya.

 

Artinya apa ini semua ?

Artinya adalah bahwasanya dalam setiap amalan dalam Islam itu dibutuhkan proses berpikir.

 

Disini kecuali dalam hal Aqidah tentu saja. Dalam hal aqidah tidak ada rukhsyah. Karena itu adalah amalan hati. Semua orang yang berakal sehat, pasti mampu mengamalkannya. Beda lagi klo orang gila atau murni tidak tahu karena bukan tidak mau tau.

 

Lanjut...

Kemudian muncul sebagian orang belakangan yang menganjurkan sedekah/ beramal tanpa berpikir. Katanya : Sudah beramal saja, tak usah banyak berpikir. Artinya : Jika kita pingin beramal jariyah, jika kita hanya punya 100 ribu maka sudah infakkan saja itu semua untuk pembangunan masjid.

 

Padahal itu bujet untuk makan keluarga besok hari ? Jawab dia : Ah sudahlah, keluarga pasrahkan sama Allah. Masak gak percaya sama Allah sih... Pasti Allah akan jamin keluargamu.

 

Menurut saya nih orang semacam ini sudah keterlaluan. Dia berkata seolah dia adalah wakil Allah di bumi. Seolah perkataannya mewakili Allah. Sejak kapan Allah menunjuk dia sebagai wakil ? Kok bisa ? Ya bisa.

 

Penjelasannya :

Memang benar Allah mengatakan bahwa Dia telah menjamin rejeki kita. Bahwa orang yang bersedekah tidak akan berkurang hartanya, bahkan berlipat. Tapi rejeki itu banyak jenisnya. Adakah dalil jika kita infakkan bujet makan kita dan keluarga kita untuk besok, pasti besok akan ada duit pengganti buat makan ? Tidak ada yang bisa jamin. Bener itu bagian rejeki, tapi belum tentu rejeki kita balesannya dari situ.

 

Artinya orang semacam ini sok tahu, padahal juga hatinya sebenarnya tidak setuju 100% tapi dia paksakan keyakinannya ke orang lain.

 

Biasanya mereka berdalil dengan perbuatan Abu Bakar yang mengeluarkan semua hartanya saat diminta Rasulullah berinfak untuk jihad. Sementara Umar hanya separo sehingga Umar merasa tidak mampu mengalahkan semangat Abu Bakar dalam beramal.

 

Sungguh perlu diketahui bahwa :

Bahkan Abu Bakar dulu, ketika beliau menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah bukan berarti beliau mengebiri akal tanpa berpikir dulu. Sama sekali bukan. Beliau adalah sahabat paling tinggi akalnya.

 

Bahkan yang beliau infakkan adalah harta keuntungan, bukan aset. Beliau yakin keesokan harinya akan bisa berjualan lagi dan dapat untung lagi karena memang sudah biasanya seperti itu. Beliau sebagai pedagang sudah dikenal di masyakarat jaman itu. Itu keyakinan yang masuk akal. Bukan keyakinan yang mengkebiri akal.

 

Kemudian alasan lainnya yang mereka kemukakan adalah : Allah Maha Tahu.

 

Ya benar Allah Maha Tahu. Karena Allah Maha Tahu makanya Allah Tahu kita butuh akal. Allah kasih kita akal untuk digunakan berpikir dengan baik. Artinya dimanfaatkan donk ini akal. Karena ini anugerah dimana merupakan sebuah iyang harus didayagunakan. Bukan malah didiemkan dan meninggalkannya. Pasrah bongkokan jelas gak boleh karena kita telah memiliki tools akal untuk berpikir.

 

Pasrah bongkokan jelas malah dicela dalam agama. Artinya dalam Islam, akal perlu digunakan untuk memikirkan prioritas dalam beramal, mempertimbangkan mafsadat, dan juga menimbang level sebuah amalan. Bukan ditiadakan perannya saat dibutuhkan.

 

Sebagian orang ekstrimis mengajak kita jihad (berperang) tanpa berpikir medan, keadaan, dan bahkan persenjataan. Yang penting ngejar mati, dapat surga, gak peduli menang atau kalah. Gak peduli negara dalam keadaan damai atau perang yang penting berangkat.

 

Tidak bisa seperti itu. Kita kudu mempertimbangkan semua aspek. Berangkat jihad itu untuk meninggikan kejayaan Islam. Bukan cari mati doank. Selain juga ada syarat dan ketentuannya.

 

Sementara itu ada juga sebagian orang yang fokusnya berdzikir, berdzikir, dan berdzikir terus. Bahkan sampai adzan berkumandang bukannya ikut sholat tetap saja berdzikir.

 

Ini juga ndak mau berpikir namanya. Ndak mau memahami prioritas !

Begitulah sempurnanya Islam. Selalu berpatok pada 2 pondasi : syar'i dan akal.

 

Dalam beramal (berinfak) ada skala prioritas. Jika memang bujetnya hanya bisa untuk makan besok, tidak usah memaksa untuk berinfak jariyah membangun masjid. Justru itu tercela dalam agama. Mengejar yang kalah utama malah mengalahkan yang lebih utama tanggungjawab nya. Padahal juga masih sunnah hukumnya yang dikejar tersebut.

 

Alasannya : Ngiler dengan pahala jariyahnya yang besar dan mengalir terus soalnya. Iya ngiler sih boleh. Tapi actionnya jangan berdasarkan hal itu. Tetap dasarkan pada skala prioritas kemampuan. Sekali lagi gunakan akal.

 

Jadikan ngilermu sebagai pemicu kerja kerasmu agar menghasilkan money yang banyak agar suatu saat nanti bisa beramal menginfakkan duit pada semua slot yang tersedia.

 

Jadikan semangat itu untuk meninggalkan kemalasan !

 

Sebagian orang malah mengatakan : Sudah, tak usah berpikir hukum suatu amalan. Selama itu ada dalilnya ya sudah kerjakan aja. Para sahabat lhoh gak berpikir dulu sebelum beramal. Begitu ada perintahnya langsung dilakukan.

 

Ini juga overdosis orang yang mengatakan. Dia tidak membaca siroh lebih luas. Bukankah juga ada sahabat yang mengatakan kepada Nabi untuk hanya mau mengerjakan yang wajib-wajib saja kemudian Nabi hanya diam. Artinya Nabi tidak mempermasalahkan.

 

Lagian siapa anda ? Begitu yakin akan mampu mengerjakan semua perintah Allah dan RasulNya ?

Bahkan para sahabat tidak mengamalkan semua yang sunnah. Bukankah ada sahabat yang sholat malam hanya 1 rokaat saja ?

Terlalu banyak dalil tentang memikirkan prioritas dalam amalan ini.

 

Semoga bermanfaat yang sedikit panjang ini.