Hati dan Kenikmatan Hidup

Bagi sebagian orang kontrakan tinggal 4 bulan yang tidak bisa diperpanjang sudah bikin bingung mikir nanti akan cari kemana ? Apakah ada rumah lain dengan fasilitas yang minimal sama bisa dikontrak ? Kalau adapun apakah ada duitnya ? Kalaupun ada duit, apakah masih nututi ?

 

Padahal kontrakan sisa 4 bulan bagi sebagian orang yang lain merupakan berkah. Bagaimana tidak berkah, sementara biasanya hanya bisa ngekos dengan satu kamar hanya mampu bayar bulanan.

 

Lebih jauh lagi, ada sebagian orang yang bahkan bisa membayar kos hanya untuk 1 bulan ke depan itu sudah sangat membahagiakan karena biasanya malah sering nunggak.

 

Naifnya, di ujung gang sana, seorang pemilik beberapa properti (rumah), pikirannya kalut karena sebuah proyeknya yang gagal mengancam dirinya kehilangan kepemilikan atas salah satu properti yang dia jaminkan ke debitur pemodal proyek. Hampir tiap malam tak bisa tidur memikirkannya.

 

Level kepemilikan seseorang terhadap dunia sangatlah berbeda-beda. Akan tetapi derajat kebahagiaan seringnya tidak pernah selaras dengan hal tersebut.

Mindset pikiran (suasana hati) dalam menyikapi karunia sangatlah berpengaruh dalam menentukan level kebahagiaan. Yang sedikit bisa menjadi sangat banyak karena pikirannya yang luas dan lapang. Sebaliknya yang luas menjadi sangat sempit karena pikiran (hati) yang sempit.

 

Mungkin ini salah satu hikmah mengapa Islam dibangun diatas pondasi amalan hati (aqidah). Karena hati yang baik akan menciptakan amalan yang baik pula. Lapangnya hati menjadikan lapangnya hidup.

 

Demikian juga sebaliknya.

 

Suasana hati adalah sesuatu yang abstrak, tidak bisa diukur dengan alat. Tapi hati, sangat berpengaruh dalam hidup.

 

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

 

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

 

Jadi, biar hidup tetap nikmat, banyak-banyaklah gunakan hati untuk bersukur dalam kondisi apapun !

 

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).