Investasi Orang-orang Beriman

Secara kasat mata yang tampak pada pandangan manusia, ketika seseorang memberi sesungguhnya dia telah merugi. Karena memberi 100 ribu artinya dia kehilangan 100 ribu, memberi 1 juta dia kehilangan 1 juta, memberi 1 milyar dia kehilangan 1 milyar.

 

Makanya dalam paradigma orang kafir ada istilahnya monetisasi. Artinya gimana caranya agar pemberian yang mereka berikan tidak menyebabkan mereka rugi. Sukur kalau memberi 1 juta bisa kembali 2 juta, 3 juta, 10 juta, dan seterusnya.

 

Ya wajar saja karena ideologi mereka yang memang kapitalis. Sebuah pemahaman gimana caranya mengeluarkan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

 

Caranya bisa dengan memberitakan pemberiannya tersebut di media misalnya, sehingga nama si pemberi jadi tenar. Artinya penambahan intangible asset. Bisa juga dengan memberi embel-embel pada pemberian, misalnya kasih kop sponsor, dan lain-lain. Intinya ndak mau rugi lah... ( secara duniawi).

 

Ya tentu saja menampilkannya dengan cara yang elegan biar gak nampak kesan monetize nya.

 

Beda dengan orang beriman. Orang beriman mindsetnya adalah akherat. Uangnya dia gunakan untuk membeli kesenangan akherat. Hartanya untuk digunakan beramal.

 

Dan Alhamdulillah Allah telah menjanjikan kesenangan berlipat-lipat di akherat nanti atas orang-orang seperti itu.

 

Karena keimanannya, orang Islam kebalikan dengan orang kafir. Orang Islam sebisa mungkin dia menyembunyikan sedekah yang dia berikan. Karena keikhlasan adalah syarat mutlak dalam beramal. Dan sembunyi-sembunyi adalah washilah terbaik menuju keikhlasan. Yang tahu hanya dia dan Allah. Benar-benar amalan hanya dia dan Allah saja.

 

Satu-satunya penahan seorang beriman dari memberi yang overdosis adalah larangan Allah sendiri. Yakni perintah Allah agar orang beriman tidak overdosis dalam memberi. Selain tentu saja iman itu bertingkat-tingkat. Ada yakin sekali sehingga memberi banyak, ada yang yakinnya kurang sehingga memberinya juga kurang.

 

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

 

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”. (QS. Al-Isra’: 29).

 

Intinya, orang beriman tidak akan pernah rugi kehidupannya. Karena dia akan mendapatkan balasan amalan yang dia lakukan sesuai dengan keimanannya.

 

Ketika memberi dia tidak rugi karena balasannya adalah kesenangan selamanya di akherat.

Ketika dia saat bepergian mampir masjid untuk sholat, dia tidak rugi waktu karena artinya itu investasi kebahagiaan abadi di akherat.

Ketika dia digarai orang, dia terdzolimi, ketika dia menerima dengan lapang dada maka itu adalah pahala besar baginya.

Ketika dia dirampok, maka yang rugi adalah perampoknya karena sudah pasti dosa akan mengintai. Sementara dia seperti sedang bersedekah.
Dan lain-lain.

 

Dan tidak ada balasan yang lebih worthed dari balasan yang akan diberikan kepada orang beriman. Karena balasannya adalah selamanya di surga. Sementara balasan bagi orang kafir dalam beramal adalah dunia saja. Sementara sifat dunia adalah sementara. Kalaulah tidak habis, maka tetap saja pada saatnya akan dihancurkan oleh Allah dengan kiamat.

 

Sungguh beruntunglah orang-orang beriman.